“Faktor-faktor ini membuat anak lebih mudah dimasuki narasi ekstrem yang dikemas melalui perhatian palsu oleh pelaku,” tutur Trunoyudo.
Pelaku disebut memanfaatkan kebutuhan emosional anak: merasa diterima, dihargai, dan memiliki komunitas.
Polisi tangkap 2 perekrut dewasa
Untuk memutus jaringan ini, Polri menangkap dua pelaku dewasa yang diduga menjadi perekrut utama sekaligus pengendali komunikasi kelompok.
“Penindakan terbaru dilakukan pada 17 November 2025 dengan menangkap dua tersangka dewasa yang berperan sebagai perekrut dan pengendali komunikasi,” kata Trunoyudo.
Baca Juga: Bom BNT 250 masuki uji operasional terakhir: Langkah besar RI menuju kemandirian alutsista
Polri menegaskan bahwa proses identifikasi terhadap 110 anak masih terus berjalan untuk memetakan tingkat keterpaparan, keterlibatan, serta kemungkinan adanya korban tambahan.
Polri minta orang tua lebih waspada
Dengan semakin intensifnya rekrutmen berbasis digital, Polri mengimbau orang tua agar lebih aktif mengawasi aktivitas daring anak.
Polri menilai kolaborasi lintas kementerian, sekolah, dan keluarga sangat penting agar anak tidak menjadi sasaran manipulasi jaringan terorisme.***
Artikel Terkait
Ayah-anak hilang di Lembah Tengkorak Bandung, Tim SAR belum temukan tanda keberadaan korban
Banyak anak SD alami gangguan penglihatan, PKK Subang gerak cepat bagikan 1.000 kacamata
Polisi tetapkan siswa SMAN 72 sebagai anak berhadapan dengan hukum, Densus 88 turut dalami motif ledakan
Mahfud MD sebut Sri Mulyani terlalu protektif terhadap anak buah di kasus korupsi pajak dan bea cukai
Mahfud MD tegaskan putusan MK larang polisi jabat sipil berlaku otomatis
Pencarian Alvaro Kiano mandek: CCTV terhapus, polisi telusuri jejak hingga Batam dan Cilegon
Kasus viral diduga bullying di SMP Tangsel: Polisi selidiki kekerasan hingga kondisi medis korban