Demokrasi yang dinilai gagal
Meski sistem republik lahir, stabilitas tak kunjung hadir. Nepal diguncang krisis demi krisis mulai dari gempa bumi 2015, pandemi Covid-19, hingga keterpurukan ekonomi.
Baca Juga: Truk ekspedisi terbakar di Tol Cipali, paket online hangus dilalap api
Generasi muda yang lahir setelah tumbangnya monarki merasa dikhianati.
Mereka menilai elite politik hanya sibuk perebutan kekuasaan sementara pengangguran, inflasi, dan korupsi tak teratasi.
Gen Z mengguncang jalanan
Aksi protes besar September 2025 disebut sebagai puncak kekecewaan generasi baru Nepal.
Dengan tuntutan perubahan, massa turun ke jalan hingga bentrok dengan aparat.
Baca Juga: Istana dan DPR tegas bantah isu surpres pergantian Kapolri
Kerusuhan kali ini kembali membangkitkan trauma lama, mirip dengan gelombang protes 2006 yang menggulingkan monarki.
Bedanya, kini generasi yang menjadi korban adalah mereka yang sejak lahir hanya mengenal Nepal sebagai republik.
Tragedi ini menunjukkan, luka sejarah Nepal belum sepenuhnya sembuh.
Jalan menuju stabilitas masih panjang, sementara rakyat mendesak jawaban segera dari sistem politik yang kian goyah.***
Artikel Terkait
Kemlu pastikan WNI di Nepal aman, siapkan opsi pemulangan
Ironi ketimpangan ekonomi di balik demo Nepal, segelintir kaya kuasai 3 kali lipat pendapatan warga miskin
Gejolak Nepal memanas: Revolusi Gen Z melawan korupsi dan larangan medsos
Fenomena ‘nepo kids’ anak pejabat jadi pemicu gelombang reformasi di Nepal
Ketua BEM UI ingatkan pejabat belajar dari protes Gen Z Nepal: Jangan hanya redakan amarah publik
Prabowo setujui pembentukan tim investigasi independen untuk usut demo Agustus 2025
KBRI Dhaka siapkan rencana kontinjensi untuk WNI di Nepal