Ironi ketimpangan ekonomi di balik demo Nepal, segelintir kaya kuasai 3 kali lipat pendapatan warga miskin

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Kamis, 11 September 2025 | 13:42 WIB
Menyoroti ironi ketimpangan ekonomi di balik aksi demonstrasi warga Nepal yang kini berujung kekacauan (Unsplash.com/SagarRara)
Menyoroti ironi ketimpangan ekonomi di balik aksi demonstrasi warga Nepal yang kini berujung kekacauan (Unsplash.com/SagarRara)

GENMILENIAL.ID – Gelombang demonstrasi besar di Nepal yang berujung kerusuhan mencerminkan kekecewaan publik terhadap ketimpangan sosial dan ekonomi yang makin tajam.

Massa yang marah bahkan membakar rumah mantan Perdana Menteri Sharma Oli hingga ia mundur dari jabatannya, Selasa, 9 September 2025.

Tidak hanya kediaman Oli, kantor kepresidenan hingga gedung parlemen juga ikut menjadi sasaran amukan massa.

Aksi ini bermula dari tuntutan pencabutan blokir media sosial, namun segera melebar menjadi kritik atas jurang ketimpangan yang menyesakkan.

Baca Juga: Mahfud MD: Rektor kampus akui jarang bertemu Nadiem Makarim saat menjabat Mendikbud

Menurut Bank Dunia, 10 persen penduduk terkaya Nepal berpenghasilan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 40 persen warga termiskin.

Kondisi ini kian memperparah fakta bahwa 1 dari 5 penduduk, lebih dari 20 persen populasi 30 juta orang masih hidup dalam kemiskinan.

Situasi lebih berat menimpa generasi muda. Data Bank Dunia 2022–2023 mencatat tingkat pengangguran usia 15–24 tahun mencapai 22 persen.

Bahkan, seorang anak yang lahir di Nepal hari ini diperkirakan hanya akan mencapai 18 persen dari potensi produktivitasnya karena rendahnya kesempatan kerja layak.

Baca Juga: Kemlu pastikan WNI di Nepal aman, siapkan opsi pemulangan

Jurang ketimpangan juga diperburuk dominasi sektor informal, rendahnya partisipasi perempuan di pasar kerja, serta terbatasnya penciptaan lapangan kerja baru.

Meski ekonomi makro menunjukkan pertumbuhan positif 4,9 persen pada semester I 2025, sebagian besar ditopang sektor pertanian dan industri, ketimpangan distribusi tetap nyata.

Sementara itu, sektor jasa melambat dan sektor keuangan menghadapi lonjakan rasio pinjaman bermasalah (NPL) hingga 4,9 persen, rekor tertinggi dalam sejarah Nepal.

Kerusuhan yang pecah di Kathmandu kini menjadi simbol ironi, di tengah pertumbuhan ekonomi yang dicatat angka, jutaan rakyat masih hidup miskin, sementara segelintir orang kaya menikmati kemewahan berkali lipat lebih besar.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X