khazanah

Puasa dan efek komunikasi verbal menuju harmoni sosial

Rabu, 4 Maret 2026 | 05:21 WIB
Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)

Namun, banyak konflik sosial justru berawal dari perkataan yang menyinggung, merendahkan, atau melukai perasaan orang lain.

Baca Juga: Viral bantu anak nyasar di Makassar, wanita ini malah dituduh penculik oleh sang ibu

Rudi menekankan bahwa pelanggaran terhadap etika kesopanan dalam berkomunikasi sering kali memicu ketidakharmonisan di tengah masyarakat.

Dalam kondisi berpuasa, Rasulullah SAW bahkan menganjurkan agar seseorang tidak membalas cacian atau hinaan, melainkan cukup mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa.

Di era digital, tantangan komunikasi semakin kompleks. Bentuk komunikasi verbal tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui media sosial, pesan singkat, dan ruang percakapan virtual.

Fenomena ujaran kebencian, sindiran, dan serangan verbal di dunia maya menjadi realitas yang sulit dihindari.

Baca Juga: Pidato terakhir Ali Khamenei sebelum gugur kembali viral singgung AS menuju kehancuran

Karena itu, menjaga etika komunikasi baik di dunia nyata maupun dunia digital menjadi bagian dari implementasi nilai puasa.

Ramadan menjadi momentum untuk melatih kecerdasan emosional dan spiritual dalam berkomunikasi agar tercipta suasana yang damai dan kondusif.

Bagi Rudi, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari menahan lapar dan haus, tetapi juga dari kemampuan menjaga lisan dan membangun komunikasi yang menebarkan energi positif.

Dengan demikian, puasa benar benar menjadi jalan menuju harmoni sosial dan peningkatan ketakwaan.***

 

Halaman:

Tags

Terkini