khazanah

Tentang ghibah dan ujian lisan, mahasiswa Al-Ahgaff ini ingatkan generasi muda untuk waspada

Sabtu, 8 November 2025 | 06:18 WIB
Aghitsna Waliyaz Zulfa, Mahasiswa tingkat ke-4 di Universitas al-Ahgaff, Yaman

GENMILENIAL.ID – Di era media sosial, mengomentari dan membicarakan kehidupan orang lain kian mudah. Namun di balik kemudahan itu, tersembunyi ujian besar bagi manusia, menjaga lisan.

Hal ini disampaikan oleh Aghitsna Waliyaz Zulfa, mahasiswa tingkat ke 4 Universitas Al-Ahgaff, Yaman.

Dalam kajian yang dibawakannya, Aghitsna menyoroti bahaya ghibah sebagai bentuk kelalaian terhadap amanah lidah.

“Lidah adalah anugerah mulia. Tapi juga bisa menjadi ujian terberat manusia. Dari lidah bisa lahir ketaatan terbaik, seperti syahadat, tapi juga kemaksiatan terburuk, ucapan kekufuran,” ujar Aghitsna.

Baca Juga: Jokowi soal wacana Soeharto dan Gus Dur jadi pahlawan nasional: Semua pemimpin punya jasa

Ghibah, dosa yang dinormalisasi

Menurut Aghitsna, ghibah atau menggunjing kini sering dianggap wajar. Padahal, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan, ghibah adalah menyebutkan kekurangan seseorang yang tidak disukainya, baik fisik, akhlak, maupun urusan duniawi.

“Meski tidak selalu dengan lisan, lidah tetap menjadi sarana termudah untuk melakukan ghibah,” jelasnya.

Allah SWT bahkan memberikan perumpamaan keras tentang ghibah dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, yaitu seperti 'memakan daging saudaranya yang telah mati'.

Baca Juga: Jadi tersangka kasus ijazah Jokowi, dokter Tifa sebut jalan terjal perjuangan kebenaran

Siksa bagi penggunjing

Aghitsna juga mengutip hadis Rasulullah SAW dalam kisah Isra’ Mi’raj, di mana Nabi melihat orang-orang yang mencakar wajah dan dada dengan kuku tembaga, simbol bagi mereka yang suka menggunjing (HR. Abu Dawud).

“Orang yang suka menggunjing bukan hanya disiksa, tapi juga kehilangan amal baiknya, hingga tak tersisa sedikit pun,” kata Aghitsna mengingatkan.

Nasihat ulama: Kurangi rasa ingin tahu

Halaman:

Tags

Terkini