Dengan orasi lantang di Taman Rizal dan Kuil EDSA, para demonstran menyebut korupsi sebagai alasan utama rakyat turun ke jalan.
Tokoh muda Sarah Elago menuding dinasti politik sebagai biang kerok.
“Lima puluh tiga tahun berlalu, namun pencuri dan koruptor tetap berkuasa. Apakah Anda akan membiarkan ini?” teriaknya disambut ribuan suara, “Tidak!”
Baca Juga: Dari SMK ke inovator digital: Wandi Irawan hemat Rp200 juta untuk Perumda Tirta Rangga Subang
Jejak di Nepal dan Prancis
Gelombang serupa sebelumnya terjadi di Nepal dan Prancis. Di Nepal, pemblokiran medsos justru memicu perlawanan yang menjatuhkan perdana menteri. Di Prancis, Gen Z menjadi garda depan menuntut perubahan politik.
Pola aksi yang berulang
Narasi yang muncul jelas: medsos menjadi panggung awal, lalu jalanan jadi arena nyata. Namun setiap gelombang aksi juga menghadirkan risiko bentrokan hingga korban jiwa.
Fenomena ini menunjukkan generasi muda global tengah mendobrak status quo politik di negaranya masing-masing, menjadikan media sosial bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga senjata perlawanan.***