khazanah

Konflik Iran-Israel dan dinamika baru Timur Tengah: Perspektif Yanuardi Syukur, peneliti UI

Senin, 14 Juli 2025 | 15:12 WIB
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Baca Juga: Ari Lasso ungkap awal bikin riders Dewa 19 bareng Ahmad Dhani, kini dievaluasi tiap tahun agar lebih simpel

Mengenal bangsa Iran

Iran, kata Yanuardi, adalah peradaban tua dunia, berasal dari warisan Kekaisaran Achaemenid dan Sassanid, lalu memasuki fase Islamisasi.

Dalam sistem kontemporer, Iran menganut model wilayat al-faqih, perpaduan antara teokrasi Syiah dan republik.

Budaya Persia dikenal literatif dan puitis. Bahasa Farsi menjadi medium ekspresi artistik dan spiritual, tercermin dalam karya Rumi, Hafez, dan Ali Shariati.

Yanuardi menyoroti bahwa sejak Revolusi 1979, Iran aktif mendukung kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah sebagai bentuk dukungan pada kaum tertindas (mustadh'afin).

Baca Juga: Yusril bantah Gibran akan pindah kantor ke Papua, sebut hanya badan khusus yang akan berkantor di sana

Kesamaan Iran dan Yahudi: Ilmu dan spiritualitas

Yanuardi menilai ada banyak kemiripan antara bangsa Persia dan Yahudi, khususnya dalam budaya ilmu pengetahuan dan tradisi spiritual.

Keduanya bangsa minoritas dengan daya tahan luar biasa. Persia melahirkan ilmuwan seperti Ibn Sina dan Al-Razi, sedangkan Yahudi memiliki Einstein dan Maimonides.

“Keduanya menjunjung tinggi rasionalitas dalam bingkai spiritualitas,” katanya, bahkan mencontohkan kunjungannya ke sinagog Yahudi di AS yang memadukan kitab suci dengan taman tematik.

Ia berharap umat Islam juga dapat mengembangkan pendekatan serupa dalam menghidupkan nilai-nilai Qur’ani secara kontekstual.

Baca Juga: Mendagri bantah Gibran akan berkantor di Papua, sebut tugasnya koordinasi kebijakan saja

Menuju perang besar?

Yanuardi memprediksi konflik belum akan selesai. Meski ada gencatan senjata dengan Iran, Israel terus menyerang Gaza dan Lebanon.

Halaman:

Tags

Terkini