Gadis belia itu ditemani oleh tiga kontestan lainnya, yaitu seorang Pelajar dari Malaysia bernama Evangeline Khoo Ke Ying, Pelajar dari Singapura bernama Christabelle Yeo, dan Pelajar Uganda bernama Victor Kiyaga.
Esai mereka menonjol di antara 34.939 kiriman yang memecahkan rekor dari penyelenggaraan kompetisi sebelumnya pada tahun 2023.
Memandang Laut yang Kotor Menjadi Indah
Dalam esai itu, Liew mengeksplorasi sejauh mana polusi laut telah memengaruhi umat manusia dan kehidupan laut.
Liew itu menuliskan judul bertajuk 'The Indian Ocean Queen's Troubles' (Masalah Ratu Samudera Hindia), yang menampilkan makhluk laut yang bisa berbicara beserta ilustrasi buatannya sendiri.
Baca Juga: Ahmad Muzani terpilih sebagai Ketua MPR RI 2024 - 2029
"Polusi laut dari sudut pandang makhluk laut, menunjukkan betapa menyedihkannya mereka akibat polusi tersebut," ungkapnya.
"Sesungguhnya, memandang hal ini sebagai alternatif yang baik untuk menumbuhkan kesadaran di kalangan generasi muda, agar tidak memberi kerusakan yang diakibatkan oleh kelalaian dan ketidaktahuan,” jelasnya.
Menurut pendapatnya, kesadaran itu telah mempengaruhinya setiap kali melihat pantai yang kotor dan laut yang keruh di hadapannya.
“Sebuah ciptaan alam yang luar biasa dieksploitasi dan dirusak oleh tindakan yang tidak bertanggung jawab,” tuturnya.
“Pilihan ada di tangan kita untuk membawa perubahan positif dalam melestarikan keindahan alam,” pungkas Liew dalam tulisan tersebut.***
Artikel Terkait
6 Tips memupuk kecintaan anak pada sastra
Mengenal ragam jenis novel, dari fantasi hingga sastra realis
Merayakan kekayaan kata-kata dan imajinasi pada Hari Sastra Sedunia
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
ESAI : Menyoal sastra masuk kurikulum
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra