Dalam menilai ekspansi TLKM, Kiwoom menekankan pentingnya membedakan kapasitas yang masih direncanakan dengan fasilitas yang telah beroperasi dan menghasilkan layanan.
“Kapasitas yang dirancang dan sudah beroperasi tidak boleh disamakan,” tulis Kiwoom.
Baca Juga: Telisik modus 'Abah' pimpinan ponpes di Lombok tengah yang diduga cabuli belasan santriwati
Realisasi fasilitas Batam, kontrak pelanggan, tingkat keterisian, serta pengungkapan EBITDA data center menjadi indikator yang perlu dicermati.
Valuasi dan pendanaan tetap perlu dicermati
Pergerakan saham ketiga emiten tersebut juga berbeda pada penutupan perdagangan Senin, 28 September 2026.
Saham TLKM melemah Rp40 atau 1,66% menjadi Rp2.370. Sementara itu, DSSA stagnan di level Rp1.055.
Berdasarkan data Investing.com, volume perdagangan TLKM mencapai sekitar 131,89 juta saham, sedangkan DSSA sekitar 206,44 juta saham.
Baca Juga: 172 Peserta pendidikan dokter spesialis FK Unair keracunan makanan, kegiatan diliburkan
Untuk DCII, data transaksi terakhir yang tersedia pada sumber tersebut masih bertanggal 25 September 2026, yakni Rp198.000.
Kiwoom menekankan bahwa keterkaitan suatu emiten dengan tema data center tidak serta-merta menjadi dasar keputusan investasi.
“Keterkaitan dengan tema data center bukan rekomendasi beli. Valuasi, likuiditas, porsi saham publik, kebutuhan pendanaan dan harga masuk tetap harus dianalisis secara terpisah,” tulis Kiwoom.
Dengan karakter bisnis yang berbeda, DCII, DSSA, dan TLKM perlu dicermati berdasarkan sumber pendapatan, kesiapan fasilitas, kontrak pelanggan, keterisian kapasitas, kebutuhan belanja modal, serta kemampuan pendanaan masing-masing.***