Baca Juga: Ibu kerja serabutan, ayah telah tiada, pelajar MAN 1 Pasuruan justru tembus parlemen remaja DPR RI
PEFINDO menilai kondisi tersebut menunjukkan melemahnya cakupan pencadangan di tengah pemburukan kualitas aset.
Padahal, dalam laporan keuangan kuartal I 2026, Bank BJB telah meningkatkan pembentukan cadangan.
Beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset keuangan dan nonkeuangan mencapai Rp307,78 miliar, meningkat tajam dibandingkan Rp115,04 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan beban pencadangan tersebut ikut memberikan tekanan terhadap kinerja operasional. Meski demikian, Bank BJB masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih.
Baca Juga: Persib Tumbang 1-2 dari Persija, Kang Akur serukan bobotoh Subang jaga kondusivitas
Pada kuartal I 2026, laba periode berjalan konsolidasian Bank BJB mencapai Rp519,30 miliar, naik sekitar 2,5 persen dibandingkan Rp506,61 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bunga dan syariah neto juga meningkat dari Rp1,82 triliun menjadi Rp2,05 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan perseroan menghasilkan pendapatan masih terjaga, meski peningkatan pendapatan harus diimbangi dengan beban pencadangan yang lebih besar.
Baca Juga: Viral sopir TransJakarta Monas-Pulogadung diduga ugal-ugalan hingga bikin penumpang terjatuh
Write-off jadi salah satu langkah Bank BJB
Untuk memperbaiki kualitas aset, Bank BJB merencanakan penghapusbukuan atau write-off kredit sebesar Rp814 miliar pada 2026.
Perseroan juga memperkirakan dapat memulihkan kredit bermasalah sekitar Rp280 miliar. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengelola tekanan dari kredit bermasalah.
Namun, PEFINDO masih memproyeksikan NPL Bank BJB berada pada kisaran 2,8 persen hingga 3 persen dalam jangka pendek.
Artinya, tantangan Bank BJB tidak hanya berkaitan dengan penghapusbukuan kredit bermasalah.