Ada beberapa alasan negara mengenakan tarif, di antaranya:
- Melindungi lapangan kerja dalam negeri. Barang impor yang lebih murah bisa menekan industri lokal, membuat perusahaan kehilangan daya saing, hingga berujung pada PHK atau relokasi produksi.
Baca Juga: Sawit dan karet RI bebas tarif impor AS, Airlangga: Peluang besar ekspor ke Negeri Paman Sam
- Melindungi konsumen. Tarif bisa diterapkan pada produk yang dianggap berisiko, misalnya daging impor yang berpotensi membawa penyakit.
- Mendukung industri baru. Strategi proteksi ini kerap dipakai negara berkembang agar industri lokal bisa tumbuh tanpa kalah bersaing dengan produk impor.
- Melindungi kepentingan strategis. Negara maju seperti AS dan Eropa Barat kerap protektif terhadap sektor penting, misalnya industri pertahanan.
Namun, strategi proteksi lewat tarif bukan tanpa kritik. Industri yang terlalu dilindungi cenderung menghasilkan produk berkualitas rendah.
Subsidi jangka panjang juga bisa jadi beban bagi pertumbuhan ekonomi.***
Artikel Terkait
Trump puji Prabowo usai kesepakatan penurunan tarif dagang RI-AS: Cerdas dan sangat populer
Filipina sepakati tarif dagang 19 persen dengan AS, ikuti jejak Indonesia
Perusahaan China ramai-ramai alihkan investasi ke Indonesia untuk hindari tarif tinggi AS
Saat India kena 50 persen tarif impor AS imbas beli pasokan minyak dari Rusia
Kesepakatan mangkrak, Jepang desak AS segera turunkan tarif impor mobil dan suku cadang
Trump ancam tarif 200 persen ke China, magnet tanah jarang jadi senjata baru perang dagang 2025
Sawit dan karet RI bebas tarif impor AS, Airlangga: Peluang besar ekspor ke Negeri Paman Sam