GENMILENIAL.ID – Jepang mendesak Amerika Serikat (AS) segera menurunkan tarif impor mobil dan suku cadang, setelah kesepakatan pemangkasan tarif yang disetujui sebelumnya tak kunjung dijalankan.
Desakan itu disampaikan negosiator perdagangan utama Jepang, Ryosei Akazawa, usai bertemu sejumlah pejabat di Washington, AS.
Tarif stacking jadi beban Jepang
Akazawa menegaskan bahwa penerapan tarif universal—dengan sistem stacking—membebani industri otomotif Jepang.
Dalam sistem ini, tarif tambahan sebesar 15 persen ditumpuk di atas tarif lama untuk produk asal Jepang.
Baca Juga: Studi: Gen Z paling merasa tak nyaman lihat ibu menyusui di ruang publik, terkait isu privasi
Jika dikecualikan, tarif tambahan hanya berlaku untuk produk dengan tarif awal di bawah 15 persen. Namun pada praktiknya, produk dengan tarif lebih tinggi tetap terbebani.
“AS sudah mengakui adanya kesalahan penerapan kebijakan ini dan berkomitmen mengembalikan kelebihan tarif yang sudah dibayarkan,” jelas Akazawa, dikutip Reuters, Sabtu 9 Agustus 2025.
Tarif 27,5 persen rugikan produsen
Jepang menyoroti khusus tarif gabungan 27,5 persen untuk kendaraan bermotor, hasil akumulasi dari tarif lama 2,5 persen ditambah tarif baru 25 persen sejak era Trump.
“Setiap hari perusahaan-perusahaan Jepang menanggung kerugian sangat besar, bahkan ada yang mencapai 100 juta yen per jam,” ungkap Akazawa tanpa menyebut nama perusahaan.
Baca Juga: Viral, diduga anggota Polres Manokwari digerebek istri sah saat bersama dua wanita di kamar hotel
Langkah revisi dari AS
Akazawa menyebut, pemerintah AS sudah sepakat untuk merevisi perintah eksekutif tentang tarif universal.
Artikel Terkait
Viral ‘tarif duduk’ Rp2.000 di air mancur MMTC Medan, warganet desak pemerintah bertindak
Trump puji Prabowo usai kesepakatan penurunan tarif dagang RI-AS: Cerdas dan sangat populer
Istana tegaskan Indonesia tak mundur dari BRICS meski dihantui ancaman tarif tambahan AS
Kesepakatan dagang Trump–Prabowo dikritik, warga AS: Konsumen Amerika yang bayar 19 persen tarif!
Filipina sepakati tarif dagang 19 persen dengan AS, ikuti jejak Indonesia
Perusahaan China ramai-ramai alihkan investasi ke Indonesia untuk hindari tarif tinggi AS
Saat India kena 50 persen tarif impor AS imbas beli pasokan minyak dari Rusia