Dengan semangat kebersamaan dan kreativitas yang ditampilkan, Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental menjadi bukti bahwa sastra mampu menjadi jembatan untuk membangun pemahaman, empati, dan kebersamaan dalam keberagaman.
Dalam acara ini, Fileski membacakan puisi karyanya yang berjudul 'Sungai yang Tersesat'
Aku pernah menjadi sungai besar,
mengalir deras seperti urat nadi bumi,
tapi aku tersesat,
di lorong-lorong beton,
di sempitnya belukar pemukiman,
di dada yang sesak tanpa oksigen.
Aku mengetuk pintu rumah-rumah,
yang bukan milikku,
dengan tangan yang gemetar,
menyeret jendela, merobek pintu,
sebab aku mencari jalanku.
Aku bukan tamu yang sopan,
aku datang membawa amarah,
dan reruntuhan doa yang tak didengar.
Dulu, aku penyembuh dahaga ladang-ladang,
kini aku hanya teriakan malam,
menggulung lampu-lampu kota,
mengubur nyawa ke dalam lumpur,
membasuh sejarah dengan kesedihan.
Salahkah aku,
jika aku menuntut jalan pulang?
2025
Haris Saputra koordinator Gusdurian juga membacakan puisi karya Fileski:
Benih-benih yang berpuasa
Lihatlah benih di dalam tanah,
ia tidak memaksa dirinya tumbuh,
ia menunggu, menahan,
ia percaya pada sang waktu.
Artikel Terkait
Dikenal sebagai aktivis produktif dan pendiri Mapala UI, ini lima puisi Soe Hok Gie yang inspiratif bagi dunia pergerakan
7 Puisi Chairil Anwar, si 'Binatang Jalang' dan juga pelopor angkatan 45
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
Ikuti program Kamjar, ini yang dirasakan oleh Agnes Oktaviani, Mahasiswi UPI Prodi Bahasa Korea asal Subang
Mahasiswi Fikom UNPAD lakukan observasi dan wawancara dengan media online GenMilenial.id untuk tugas mata kuliah komunikasi massa
Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNAS Jakarta raih medali perunggu pada ajang film pendek di Malaysia