Anak-anak mungkin tidak memberikan sesuatu yang mahal, tetapi mereka memberikan bagian dari apa yang mereka miliki dan hasilkan sendiri.
Baca Juga: Pembayaran digital Perumda Tirta Rangga Subang melonjak, dari 40 persen kini capai 83 persen
"Mereka melakukannya karena mereka memahami arti berbagi, meskipun hidup dalam kesederhanaan," sambungnya.
Kisah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu hadir melalui pelajaran di dalam kelas.
Sikap peduli, berbagi, dan menghargai orang lain juga dapat tumbuh dari lingkungan serta kebiasaan sehari-hari.
Hasil bumi Papua dan pesan tentang pangan
Selain berbicara mengenai ketulusan anak-anak, Ajup juga melihat sisi lain dari momen tersebut. Sayur dan buah yang dibawa para siswa menjadi pengingat mengenai potensi pangan yang tersedia di lingkungan mereka.
Menurutnya, Papua memiliki beragam hasil bumi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
"Alam telah menyediakan sayur, buah, umbi-umbian, dan berbagai hasil bumi yang melimpah," tutur Ajup.
"Yang diperlukan adalah kemauan untuk menjaga, merawat, dan mengolah tanah dengan bijaksana. Ketika alam dirawat, alam akan terus memberi kehidupan," lanjutnya.
Ajup menilai pemanfaatan potensi lokal secara bijak dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberagaman alam.
Masyarakat tidak harus meninggalkan kekayaan pangan lokal untuk mendapatkan makanan yang bergizi.
"Justru dengan memanfaatkan potensi lokal secara bijak, kita dapat menikmati pangan yang bergizi sekaligus menjaga warisan alam bagi generasi berikutnya," jelasnya.