“Walaupun tidak jernih, tapi air ini sangat kita perlukan untuk mencuci baju, untuk mandi,” lanjut perempuan tersebut.
Baca Juga: Jembatan putus, Desa Sekumur Aceh Tamiang terisolasi: Warga tinggal di terpal dan butuh tenda layak
Kebutuhan sanitasi menjadi prioritas utama bagi warga di tengah keterbatasan sarana dan belum pulihnya infrastruktur air bersih.
Warga menyadari risiko kesehatan, namun kondisi darurat membuat mereka tak memiliki alternatif lain.
Warga berbagi titik sumur darurat
Dalam video tersebut, tampak sejumlah warga berkumpul di beberapa titik sumur yang masih mengeluarkan air, meski kualitasnya sangat memprihatinkan.
Warga saling berbagi informasi mengenai lokasi sumur yang masih bisa digunakan.
Baca Juga: Warga Aceh di tengah banjir tunjukkan solidaritas untuk Gaza, ungkap kesedihan yang lebih besar
“Di sini ada beberapa titik sumur yang bisa kita ambil,” katanya sambil memperlihatkan aktivitas warga di sekitar sumur.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana warga Aceh Tamiang saling bergotong royong untuk bertahan hidup di tengah krisis pascabencana.
Seperti kembali ke zaman dulu
Bagi warga, kondisi ini terasa seperti kemunduran yang menyakitkan.
Akses terhadap air bersih yang sebelumnya mudah kini berubah menjadi perjuangan harian.
Baca Juga: Warga Desa Simaninggir Tapteng rela lewati jalanan hutan yang curam dan licin demi menjemput bantuan
“Airnya memang tidak jernih, jadi seperti kembali ke zaman dulu,” pungkasnya.