“Konflik Aceh sudah kita hadapi, damai sudah kita pelihara Mualem. Tsunami Aceh sudah kita tangani, gempa serempah di dataran tinggi Tanoh Gayo sudah kita hadapi,” katanya.
Ia juga menyinggung pandemi dan bencana lainnya yang pernah dilalui masyarakat Aceh dengan semangat kebersamaan.
“Covid-19 sudah kita lalui juga Mualem, bencana longsor dan banjir sama-sama kita lalui Mualem,” lanjutnya.
Ketegaran pemimpin adalah kekuatan rakyat
Dalam pesannya, pria tersebut menekankan bahwa kekuatan masyarakat sangat bergantung pada ketegaran seorang pemimpin.
Ia berharap Mualem dapat menjadi simbol kekuatan di tengah situasi sulit.
“Jangan nangis-nangis lagi, masyarakat bersamamu Mualem, jangan cengeng,” pintanya.
Pesan itu ditutup dengan kalimat yang menggambarkan identitas dan kebanggaan masyarakat Aceh.
“Aceh adalah rahim para pejuang, bangsa yang paling sulit ditaklukkan. Bangun Mualem, kalau pemimpin menangis kami masyarakat lemah Mualem,” pungkasnya.
Momen ini menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, solidaritas dan semangat juang masyarakat Aceh tetap menyala.
Dukungan moral yang datang dari rakyat menunjukkan kuatnya ikatan batin antara pemimpin dan warganya dalam menghadapi cobaan bersama.***