Baca Juga: Polres Subang perkuat benteng toleransi, cegah radikalisme dari desa
“Yang lainnya tidak usah, yang penting bisa shalat,” tambahnya.
Bertahan hidup di bawah terpal seadanya
Dalam cuplikan video itu, terlihat sang ibu bersama keluarganya berteduh di bawah terpal seadanya yang dipasang di atas sepeda motor rusak.
Di sekeliling mereka, puing-puing bangunan dan material sisa banjir bandang masih berserakan.
“Kami tidur di tempat yang tidak layak. Yang penting ada kain untuk menghangatkan badan,” ujarnya.
Tak hanya itu, sang ibu juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap anaknya yang harus berjalan jauh melewati medan terjal demi mencari bantuan makanan.
“Makan dan lainnya tidak usah, anak saya mencari jauh-jauh, kasihan,” tuturnya dengan suara bergetar.
Kisah ini menggambarkan betapa beratnya perjuangan para penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang.
Di balik angka statistik korban dan pengungsi, masih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan, bukan hanya dalam bentuk bantuan materi, tetapi juga perhatian dan kepedulian kemanusiaan.***