humaniora

CERPEN: Kota di atas bayangan

Senin, 27 Oktober 2025 | 21:33 WIB
Ilustrasi - Kota di atas bayangan

Kabut basah turun begitu rendah hingga terasa menempel di kulit, seolah-olah dunia sedang bermimpi dan aku tersesat di dalamnya.

Dinginnya menyelinap ke sela pakaian, mencari denyut nadiku seperti tangan tak kasat mata yang hendak menarikku ke sisi lain.

Di pinggang, lentera kecil berkedip merah pucat, terengah layaknya napas orang yang tengah diburu.

“Ini yang kau cari?” Suara berat itu datang dari balik kabut, bergesekan seperti besi berkarat diseret di lantai batu. Aku tidak menjawab. Langkahku tiba di tepi tebing akar, tempat tanah menganga, luka yang belum mengering.

Baca Juga: FIFA ASEAN Cup resmi diluncurkan: Era baru sepak bola Asia Tenggara dimulai, Piala AFF terancam tergusur?

Dari celah itu, menetes kilau dingin, pucat bagai serpihan bulan beku, dinginnya menembus kulit bahkan sebelum kusentuh.

Aku jongkok, menempelkan botol kaca ke ujung tetesan pertama, seakan menangkap sisa napas dari sesuatu yang sekarat, atau mungkin dari mimpi yang belum selesai.

Akar di bawahku bergetar, mengirimkan gelombang ke tulang betis.
“Kau tahu risikonya, Ardan,” suara itu lagi, lebih dekat, bercampur bunyi rantai yang beradu pelan.

Aku menoleh separuh. Sosok tinggi berselimut kain gelap berdiri di balik kabut, wajahnya tertutup topeng logam penuh goresan, matanya, dua lubang hitam, menatap botol di tanganku.

Baca Juga: IFG wujudkan aksi nyata ESG lewat 'Sinergi Karsa' di Rusun Marunda: Dari literasi finansial hingga penanaman mangrove

“Cahaya ini milik mereka,” lanjutnya.
“Bukan untuk dunia atas dan kalau aku tak membawanya, kita semua membusuk di bawah langit yang mati.” Potongku tajam, lalu menutup botol rapat-rapat.

Kata-kata itu keluar begitu saja, tapi di kepalaku berkelebat gambar singkat, pasar sepi, mata anak-anak kosong, langit kelabu yang tak pernah berubah.

Getaran di akar semakin kuat, tanah seakan ingin menendangku pergi. Dari celah itu, terdengar suara… bukan gemuruh, tapi ketukan. Satu, dua, tiga, diam, lalu dua ketukan lagi, ritmenya seperti pintu diketuk dari sisi lain mimpi.

Topeng logam itu melangkah maju. “Itu bukan peringatan. Itu panggilan.”

Halaman:

Tags

Terkini