Untuk menyambung hidup sekaligus membiayai kebutuhan pengobatan, Ayan berjualan pagar bambu keliling menggunakan sepeda motor.
Ia mengambil barang dari produsen di daerah Gambarsari, Kecamatan Pagaden Barat, lalu menjajakannya hingga ke beberapa kecamatan bahkan sampai Cilamaya dan Tanjung Baru, Karawang.
Dari setiap lembar pagar bambu, ia hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp3.000. Dalam sehari, setelah dipotong biaya bensin, ia membawa pulang sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu.
Penghasilan itu harus cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari sekaligus biaya pengobatan istrinya.
Di tengah keterbatasan, bantuan sempat datang dari seorang dokter yang menjenguk dan memberikan bantuan untuk meringankan beban keluarga.
Bantuan sembako juga diterima dari jajaran kepolisian setempat. Meski demikian, Ayan tetap berharap ada perhatian lebih lanjut agar istrinya bisa mendapatkan pengobatan maksimal dan rumahnya dapat diperbaiki.
Baca Juga: Viral mobil MBG telat datang di MTs Bogor, siswa soraki karena tiba saat jam pulang
“Kalau musim hujan seperti ini, rumah kebanjiran, bocor, lantainya masih tanah jadi becek. Takut ambruk pasti ada, tapi mau bagaimana lagi, tidak punya tempat lain,” ujarnya.
“Mudah-mudahan ke depan bisa dapat program bedah rumah supaya lebih layak huni,” harapnya.***
Artikel Terkait
Resmikan rumah rutilahu kakek Usup yang dirawat polisi, AKBP Sumarni apresiasi dedikasi Bripka Andri Hermawan
Giat program Rutilahu, Kapolres Subang letakan batu pertama rumah warga Desa Rancamulya
Pecah, jelang pemindahtugasan AKBP Sumarni resmikan rutilahu warga, total 28 rumah yang sudah dibangun
Bupati Subang janji muluskan jalan dan tambah PJU di Cisaga, DPR RI soroti rutilahu dan bank emok
Peletakan batu pertama rutilahu di Kadawung, Kapolres Subang tekankan pengabdian yang berpihak pada sesama
Diduga hanyut ke Sungai Cijagra, seorang ibu di Bandung hilang usai lantai rumah ambruk
Aset rampasan koruptor harus jadi manfaat publik, Subang tuan rumah serah terima hibah KPK