Durian diangkut bertaruh nyawa
Sherly juga membeberkan bagaimana setiap buah durian harus melewati perjalanan panjang dan berisiko tinggi sebelum sampai ke tangan pembeli.
Baca Juga: Kayu gelondongan jadi jembatan relawan salurkan bantuan untuk korban banjir Aceh
“Setiap buah durian yang sampai ke pasar, diangkat dengan cucuran keringat, nyawa, dan air mata,” tulisnya.
Durian dipikul oleh kuli penyeberang dengan tarif Rp2.000 per buah, lalu diteruskan oleh tukang langsir menggunakan sepeda motor melewati jalur tebing terjal dengan ongkos Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per perjalanan.
Jembatan kabel baja jadi satu-satunya akses
Risiko yang dihadapi warga pun tidak main-main. Sherly menuturkan, beberapa nyawa dilaporkan melayang akibat terjatuh ke jurang puluhan meter saat berusaha menyeberang.
Salah satu sosok yang disorot adalah seorang kuli panggul bernama Bule. Dengan tubuh kecil dan hujan yang mengguyur, ia hilir mudik menyeberangi Sungai Krueng Peusangan.
“Satu-satunya penghubung hanyalah ‘lumpe’, seutas kabel baja yang ditopang bambu,” terang Sherly.
Kondisi tersebut menggambarkan betapa warga Aceh Tengah saat ini mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan penghidupan, sembari menunggu kehadiran negara untuk memulihkan akses infrastruktur pascabencana.***
Artikel Terkait
Puluhan warga Aceh kompak derek mobil PLN di jalan berlumpur, gotong royong demi listrik kembali menyala
Viral ibu-ibu korban bencana Aceh bahagia pakai baju Persit dari donasi, senyum muncul di tengah fase pemulihan
Usai viral nyanyi bareng korban bencana di Aceh, influencer Azzahra Putri sampaikan pesan menyentuh untuk anak-anak Indonesia
Warga Aceh Timur terpaksa sewa beko Rp600 ribu per jam untuk bersihkan lumpur sisa banjir bandang
Viral gelembung gas muncul di Gunong Cut Nagan Raya pascabanjir, Pemkab turunkan tim dan pasang garis polisi
Cerita bocah Aceh Tamiang saat banjir bandang terjang rumahnya: Air datang usai subuh hingga momen kelaparan
Kayu gelondongan jadi jembatan relawan salurkan bantuan untuk korban banjir Aceh