“Mereka lapar, tapi mereka mendahulukan yang lain. Mereka tidak serakah. Banyak yang hanya mengambil sedikit makanan agar orang lain kebagian,” ungkapnya.
Bahkan para relawan yang juga korban ikut membantu memasak sejak pukul 14.00 hingga 17.00, sebuah contoh gotong royong yang tetap hidup di tengah bencana.
Tidur di terpal, berteduh di masjid
King Abdi juga mengungkap realitas pahit yang dialami masyarakat. Banyak pengungsi yang kini tinggal hanya dengan terpal seadanya, sementara sebagian lainnya berteduh di masjid karena rumah mereka rata oleh banjir bandang.
“Hanya baju dan tempelan lumpur yang tersisa. Luka mereka masih sangat basah,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa penderitaan para korban tidak akan selesai dalam waktu cepat.
Doa dan simpati mengalir
Postingan King Abdi mendapat respons besar dari warganet. Banyak yang menuliskan simpati, mengirim doa, dan mengapresiasi sikap para korban yang tetap menjaga kebersamaan meski berada dalam kondisi kelaparan ekstrem.***
Artikel Terkait
Ribuan kayu gelondongan bertanda Kemenhut terdampar di pesisir Lampung, diakui berasal dari kecelakaan kapal PT Minas Pagai Lumber
Pengungsi pria di Aceh terpaksa pakai daster demi hangatkan diri: Minim bantuan pakaian pria di posko banjir bandang
Bertaruh nyawa di jalur longsoran, pengungsi banjir Aceh Utara cari beras dan BBM
Pilu pria di Sibolga kumandangkan azan setiap hari di lokasi terakhir ia melihat istrinya yang hilang tertimbun longsor
Novel Baswedan soroti penyebab banjir Sumatera: Izin tambang, perkebunan dan potensi korupsi dalam kerusakan lingkungan
Lumpur pascabanjir hampir seatap, warga di Sumatera harus merangkak saat masuk rumah
BNPB: Korban meninggal banjir dan longsor di Sumatera tembus 990 jiwa, upaya pencarian terus dilakukan