CERPEN: Kota masa depan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 10 Juli 2025 | 12:55 WIB
Ilustrasi - Kota masa depan
Ilustrasi - Kota masa depan

Akmal menambahkan, “Secara ilmiah, ini disebut Urban Water Harvesting. Mirip dengan apa yang dilakukan suku pedalaman di Amazon, tapi ini versi canggihnya.”

Juragan Andi tergelak. “Kalau begitu, saya harus belajar bikin embung di bekas lubang tambang saya. Biar cucu saya kalau main tidak perlu beli air mineral.”

Danu menyahut, “Kalau airnya bersih begini, bisa buat merebus gudeg tanpa perlu filter lagi. Hemat biaya produksi!”

Kami tiba di titik nol kilometer IKN. Sebuah tugu sederhana namun penuh makna. Di sana, Deputi Myrna kembali memberi pencerahan. “Komitmen terhadap lingkungan juga berarti gaya hidup minim sampah. Jangan sampai kita membangun kota masa depan, tapi justru mewarisi gunung sampah di masa depan.”

Baca Juga: Komisi I DPR soal uji calon Dubes: Kalau ini dianggap bocoran, semuanya oke

Aku teringat anekdot pencerahan dari seorang sufi tua: “Manusia itu seperti wadah. Kalau isinya selalu sampah, bagaimana bisa menampung cahaya?”

Altov tiba-tiba berseru, “Lihat! Ada tupai! Tupai di tengah kota! Ini namanya biodiversity corridor yang berhasil!”

Juragan Andi menunjuk ke arah lain. “Itu kok ada tempat sampah khusus untuk kulit pisang, ya?”

“Tentu, Juragan,” jawab Deputi Myrna, “itu untuk kompos. Kita ingin membangun eco-village dalam skala kota. Setiap limbah organik akan kembali ke tanah, menjadi nutrisi bagi kehidupan baru.”

Akmal mengangguk. “Secara kimia, ini adalah dekomposisi aerobik. Mikroorganisme bekerja keras mengubah sampah menjadi pupuk. Ini bukti bahwa di alam, tidak ada yang namanya sampah, hanya bahan baku yang salah tempat.”

Baca Juga: Komisi I DPR: Calon Dubes yang diuji ‘kelas berat’, mayoritas diplomatik berpengalaman

Kami semua tertawa. Juragan Andi menggaruk-garuk kepalanya. “Berarti, kalau saya makan pisang di sini, kulitnya saya masukkan ke tempat sampah itu. Kalau di Samarinda, saya lempar ke sungai, aman kan?”

“Tidak aman, Juragan!” seruku. “Itu namanya polusi! Prinsipnya sama di mana pun kita berada. Kesadaran lingkungan itu universal.”

Danu tiba-tiba mengeluarkan sebuah wadah kecil dari tasnya. “Saya bawa sisa gudeg kemarin. Kalau ada tempat sampah organik, bisa saya buang di sini, ya? Biar jadi pupuk buat nangka muda lagi.”

Menjelang sore, kami kembali ke titik awal. Lelah, tapi hati kami terasa lebih ringan. Juragan Andi tiba-tiba mendekatiku. “Gus, saya mau investasi di IKN. Tapi bukan tambang lagi, saya mau buka toko alat daur ulang. Kayaknya laris manis di sini.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X