CERPEN: Kota masa depan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 10 Juli 2025 | 12:55 WIB
Ilustrasi - Kota masa depan
Ilustrasi - Kota masa depan

Baca Juga: Waspada banjir rob ancam pesisir Jakarta hingga 13 Juli, BPBD: Dipicu pasang laut dan bulan purnama

Ibaratnya, kota ini didesain agar kalau lampunya mati semua, kita tetap bisa melihat bintang saking bersihnya polusi cahaya.”

Perjalanan pun dimulai. Kami menyusuri jalan setapak yang asri. Akmal langsung mengeluarkan catatannya.

“Tahukah kalian,” katanya, seperti dosen muda yang bersemangat, “bahwa IKN ini dirancang dengan konsep Forest City? Rasio ruang terbuka hijaunya mencapai 75 persen.

Artinya, kalau kita buang sampah sembarangan di sini, probabilitasnya lebih tinggi kena daun daripada aspal!”

Baca Juga: Banjir rendam 141 RT dan 7 ruas jalan di Jakarta, BPBD kerahkan tim dan evakuasi ratusan warga

Ibu Kiky menimpali, “Pantas saja udaranya segar. Anak-anak saya yang biasanya alergi debu, di sini langsung ceria. Mungkin karena tidak ada debu gosip tetangga, ya?”

Danu, yang dari tadi diam sambil mencium-cium aroma udara, tiba-tiba berkomentar, “Wah, udara bersih begini, cocok buat fermentasi nangka muda. Gudeg saya pasti lebih gurih!”

Kami melewati Istana Negara yang megah namun tampak menyatu dengan lanskap hijau. Juragan Andi terpukau.

“Ini kok beda sama lokasi tambang saya, ya? Kalau saya buka tambang, pohonnya malah ditebangin buat akses jalan.”

Baca Juga: Sungai Ciliwung meluap, 53 RT di Jakarta terendam banjir, Cawang nyaris setinggi 3 meter

“Nah, itu bedanya, Juragan,” ujarku. “Green City itu bukan cuma tentang menanam pohon, tapi bagaimana kita mengintegrasikan alam dalam desain kota. Seperti kata Jalaluddin Rumi, ‘Apa pun yang kau tanam di tanah hatimu, akan berbuah.’ Nah, IKN ini menanamkan benih kesadaran lingkungan.”

Altov sibuk memotret. “Cahaya di sini luar biasa. Bangunannya modern, tapi tidak kaku. Ada jiwa di setiap sudutnya. Mungkin karena mereka mendesainnya dengan cinta lingkungan, bukan cuma cinta uang.”

Kami berhenti di Embung MBH, sebuah danau buatan yang jernih. “Ini bukan cuma penampung air, lho,” jelas Deputi Myrna, “tapi juga bagian dari sistem pengelolaan air berkelanjutan. Air hujan ditampung, diolah, lalu digunakan kembali. Konsepnya mirip siklus hidup air, tak ada yang terbuang sia-sia.”

Baca Juga: Mataram diterjang banjir besar, air capai atap rumah dan mobil terbawa arus

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X