Senja merangkak di atas cakrawala Cengkareng, memoles awan-awan kelabu menjadi palet jingga yang sendu.
Di bawahnya, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta berdenyut, bukan dengan ritme modernitas, melainkan simfoni kekacauan yang absurd.
Udara dipenuhi bisikan-bisikan frustrasi, aroma keringat, dan sesekali, lengkingan sirene yang entah untuk apa.
Di tengah hiruk-pikuk itu, rombongan para koruptor baru saja mendarat dari penerbangan bisnis yang mewah.
Baca Juga: Dukung swasembada pangan, Polres Subang tanam jagung serentak bersama Polri se-Indonesia
Mereka berbaris rapi, dengan koper-koper bermerek yang menggembol entah berapa banyak 'uang pelicin' terselubung.
Di garis depan, Tuan Kemaruk, koruptor paling senior dengan perut buncit yang seolah menyimpan cadangan devisa negara, tersenyum lebar.
"Ah, udara Indonesia! Selalu menawarkan peluang," gumamnya pada Ndoro Nggragas, koruptor spesialis proyek fiktif, yang sibuk merapikan jilbab Hermes-nya.
"Betul, Tuan. Di sini, kekacauan adalah seni. Dan kita adalah senimannya," sahut Ndoro Nggragas, mengedipkan mata ke arah seorang petugas Bea Cukai yang terlihat linglung.
Baca Juga: Seskab Teddy: Kehadiran Presiden Prabowo di KTT BRICS jadi tonggak sejarah diplomasi Indonesia
Tak jauh dari mereka, segerombolan provokator yang baru pulang dari pelatihan "agitasi massal" di luar negeri, berteriak-teriak mencari trolley.
Salah satunya, Mister Grusahgrusuh, dengan kaus bergambar tikus berdasi, melompat-lompat panik. "Mana trolley-nya?! Ini konspirasi! Mereka sengaja menyembunyikan trolley agar kita tidak bisa membawa pulang pesan-pesan revolusi!"
Seorang petugas keamanan yang jidatnya berkerut melongo. "Maaf, Pak. Trolley memang sedang habis. Antrean panjang."
Artikel Terkait
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Lagi, insiden kecelakaan pesawat AS: Kini terjadi libatkan Jet Bisnis saat mendarat di Bandara Arizona
3 Fakta terkini pencurian barang berharga dalam koper penumpang pesawat di Bandara Makassar, perhiasan 4 gram raib!
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Takbir Padang Karbala