Adegan terakhir berlangsung di depan lift menuju area parkir. Antrean mengular panjang, seperti ular piton yang kekenyangan.
Gus Jakfar, seorang sufi lokal yang entah bagaimana bisa sampai di bandara dengan keranjang rotan berisi ayam jago kesayangannya, sedang khusyuk bertasbih.
Baca Juga: Tridjaya Motor dan TP PKK Subang gelar senam sehat, gaungkan sinergi harmonis lewat gaya hidup aktif
Tiba-tiba, seorang pria dengan kemeja sutra licin, dikawal dua polisi berseragam lengkap, langsung memotong antrean.
"Minggir! Bapak bos mau lewat!" teriak salah satu polisi.
Gus Jakfar mengangkat kepalanya, memandang pria berseragam itu dengan mata teduh. "Nak, tahukah engkau? Di mata Tuhan, antrean itu adalah syahadat. Siapa yang merusak antrean, ia merusak janji."
Pria berseragam itu terdiam sejenak, lalu hanya berkata pelan, "Maaf, Gus," sebelum pintu lift tertutup dengan suara 'ting!' yang memilukan.
Di dalam lift, Tuan Kemaruk tersenyum lebar pada anak muda yang baru saja menerobos antrean. "Bagus, Nak. Tahu cara kerja dunia ini."
Baca Juga: Kejagung sita 72 mobil mewah PT Sritex, dugaan korupsi kredit capai Rp24 miliar
Ketika lift itu naik, Gus Jakfar berbisik pada ayam jagonya, "Nak, tahukah kau? Bandara ini seperti panggung teater. Ada raja, ada badut, ada penari. Dan kita, hanya penonton yang membayar mahal untuk pertunjukan ini."
Di kejauhan, Mister Grusahgrusuh masih berorasi di area kedatangan, kini menuduh maskapai penerbangan sebagai kaki tangan kapitalis global.
Sementara Mr. Smooth dan Madame Dubois, setelah berhasil melewati bea cukai dengan bantuan seorang tukang kopi bandara, menghela napas lega.
"Well," kata Mr. Smooth sambil menarik napas dalam-dalam, "Paling tidak, saya belajar bahwa di negara ini, kekacauan adalah bentuk seni yang paling tinggi. Dan kesabaran adalah visa paling penting."
Baca Juga: DPRD Subang tekankan efisiensi dan infrastruktur dalam pembahasan perubahan KUA-PPAS 2025
Madame Dubois tertawa kecil. "Betul, Monsieur. Mungkin kita harus mengusulkan kepada UNESCO agar Terminal 3 ditetapkan sebagai situs warisan dunia, sebagai monumen 'ketidakteraturan yang terorganisir'."
Artikel Terkait
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Lagi, insiden kecelakaan pesawat AS: Kini terjadi libatkan Jet Bisnis saat mendarat di Bandara Arizona
3 Fakta terkini pencurian barang berharga dalam koper penumpang pesawat di Bandara Makassar, perhiasan 4 gram raib!
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Takbir Padang Karbala