CERPEN: Opera absurd

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 10 Juli 2025 | 01:21 WIB
Ilustrasi - Opera absurd
Ilustrasi - Opera absurd

Adegan terakhir berlangsung di depan lift menuju area parkir. Antrean mengular panjang, seperti ular piton yang kekenyangan.

Gus Jakfar, seorang sufi lokal yang entah bagaimana bisa sampai di bandara dengan keranjang rotan berisi ayam jago kesayangannya, sedang khusyuk bertasbih.

Baca Juga: Tridjaya Motor dan TP PKK Subang gelar senam sehat, gaungkan sinergi harmonis lewat gaya hidup aktif

Tiba-tiba, seorang pria dengan kemeja sutra licin, dikawal dua polisi berseragam lengkap, langsung memotong antrean.

"Minggir! Bapak bos mau lewat!" teriak salah satu polisi.

Gus Jakfar mengangkat kepalanya, memandang pria berseragam itu dengan mata teduh. "Nak, tahukah engkau? Di mata Tuhan, antrean itu adalah syahadat. Siapa yang merusak antrean, ia merusak janji."

Pria berseragam itu terdiam sejenak, lalu hanya berkata pelan, "Maaf, Gus," sebelum pintu lift tertutup dengan suara 'ting!' yang memilukan.

Di dalam lift, Tuan Kemaruk tersenyum lebar pada anak muda yang baru saja menerobos antrean. "Bagus, Nak. Tahu cara kerja dunia ini."

Baca Juga: Kejagung sita 72 mobil mewah PT Sritex, dugaan korupsi kredit capai Rp24 miliar

Ketika lift itu naik, Gus Jakfar berbisik pada ayam jagonya, "Nak, tahukah kau? Bandara ini seperti panggung teater. Ada raja, ada badut, ada penari. Dan kita, hanya penonton yang membayar mahal untuk pertunjukan ini."

Di kejauhan, Mister Grusahgrusuh masih berorasi di area kedatangan, kini menuduh maskapai penerbangan sebagai kaki tangan kapitalis global.

Sementara Mr. Smooth dan Madame Dubois, setelah berhasil melewati bea cukai dengan bantuan seorang tukang kopi bandara, menghela napas lega.

"Well," kata Mr. Smooth sambil menarik napas dalam-dalam, "Paling tidak, saya belajar bahwa di negara ini, kekacauan adalah bentuk seni yang paling tinggi. Dan kesabaran adalah visa paling penting."

Baca Juga: DPRD Subang tekankan efisiensi dan infrastruktur dalam pembahasan perubahan KUA-PPAS 2025

Madame Dubois tertawa kecil. "Betul, Monsieur. Mungkin kita harus mengusulkan kepada UNESCO agar Terminal 3 ditetapkan sebagai situs warisan dunia, sebagai monumen 'ketidakteraturan yang terorganisir'."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X