CERPEN: Opera absurd

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 10 Juli 2025 | 01:21 WIB
Ilustrasi - Opera absurd
Ilustrasi - Opera absurd

Mr. Smooth mencoba tersenyum, "Ya, bisakah Anda menjelaskan bagaimana cara mengisi kode QR ini tanpa ponsel? Dan apakah 'Jenis Barang Bawaan Lainnya' itu termasuk penyesalan hidup?"

Baca Juga: Diplomat muda Arya Daru tewas misterius, Kemlu serahkan penanganan ke polisi

Petugas itu hanya menggaruk kepalanya. "Maaf, Bapak. Aturan ya aturan. Semua harus pakai QR code. Kalau enggak punya HP, bisa pinjam teman," katanya sambil menunjuk ke arah Tuan Kemaruk yang tiba-tiba dikerumuni oleh lima ajudan berseragam, melenggang santai melewati jalur khusus tanpa sentuhan teknologi.

"Lihat itu, kekasihku," bisik Madame Dubois pada Mr. Smooth, "Seorang 'raja' sedang lewat. Mungkin dia punya QR code di dahinya."

Ketika masuk ke area pengambilan bagasi, kekacauan makin menjadi.

Di tengah kerumunan yang berebut koper, sekelompok Mahasiswa Kritis dengan jaket almamater kumal sedang menggelar diskusi dadakan.

Baca Juga: Setelah ke KPAI, Ahmad Dhani siap polisikan psikolog Lita Gading atas dugaan serangan psikis terhadap anaknya

"Ini bukti nyata kegagalan birokrasi!" teriak seorang mahasiswa bernama Ranggas, sambil menunjuk konveyor yang macet.

"Sistem ini tidak pro-rakyat! Ini oligarki bagasi!" sahut mahasiswa lain, Tere Liye, sambil mencatat di buku kecilnya.

Mereka mulai menyanyikan yel-yel perjuangan, menarik perhatian beberapa turis asing yang kebingungan.

Tak jauh dari mereka, berdiri sekelompok Penyair Urakan, dengan rambut gondrong dan rokok kretek terselip di bibir.

Chairil, sang penyair paling senior, dengan mata merah padam, menggumamkan sajaknya.

Baca Juga: Putrinya dihujat netizen, Ahmad Dhani dan Mulan Jameela lapor ke KPAI: Anak di bawah umur dilindungi negara

"Bandara ini, kawan, adalah puisi yang tak pernah selesai. Setiap langkah adalah rima yang patah, setiap antrean adalah baris yang hilang. Kita semua adalah bait-bait yang terlantar, menunggu makna yang tak kunjung tiba."

Temannya, Gembul, yang berbadan tambun, menambahkan, "Kalau begini terus, inspirasiku cuma mentok di 'kekacauan' dan 'bau keringat'. Mana bisa bikin puisi cinta?"

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X