Netanyahu mendongak, matanya kosong. "Tapi... Dolar kami... Shekel kami... turun ke 3.7... lalu pulih ke 3.5... itu pun karena spekulasi dan kelemahan dolar global!"
"Spekulasi? Itu namanya art of the deal, Benny!" seru Trump sambil tersenyum lebar.
Baca Juga: Minibus seruduk area IGD RS PMC Pamanukan, remaja perempuan tewas, dua lainnya luka-luka
"Kita jual saja semua puing-puing ini sebagai 'seni instalasi pasca-perang' ke para kolektor seni kaya di New York! Dijamin harganya melambung! Atau, jual ke Kolektor Seni Absurd di Paris untuk dipamerkan di Museum Louvre!"
Di sudut ruangan, muncul Elon Musk, entah dari mana. Ia tampak sedang sibuk mengutak-atik sebuah benda kecil yang mengeluarkan dengungan aneh.
Wajahnya serius, namun matanya memancarkan kegilaan seorang jenius yang kurang tidur.
"Saya sudah bilang, kalian harus beralih ke Neuralink," kata Musk tanpa memandang siapa pun.
Baca Juga: Cak Imin ancam razia pesantren sesat: Yang busuk harus ditindak, jangan rusak nama baik pesantren
"Daripada membayar 450.000 prajurit cadangan, kita pasang saja chip ke otak mereka. Satu chip, satu prajurit. Lebih efisien, lebih hemat energi, dan mereka bisa mengendalikan rudal hanya dengan pikiran! Bayangkan efisiensinya!"
Netanyahu terbatuk. "Tapi, Elon, perang ini... ini sudah berakhir. Ini adalah 'Perang 12 Hari', dan sekarang kami harus membayar tagihannya."
"12 Hari?!" Elon mengangkat alisnya. "Itu durasi baterai ponsel saya saat ini. Anda serius? Harusnya bisa lebih lama kalau pakai teknologi saya."
Dari balik tumpukan puing, seorang pelaku bisnis veteran bernama Tuan LBP, yang dikenal sebagai "Mister Rupiah" karena obsesinya pada mata uang Indonesia, keluar dengan senyum misterius di wajahnya. Ia memegang sebuah koin rupiah senilai seribu.
Baca Juga: Usulan pemakzulan Gibran masih menggantung, Ketua MPR: Belum ada update dari sekretariat
"Kalian terlalu terpaku pada dolar dan shekel," katanya dengan suara berat, seolah baru saja menemukan rahasia alam semesta.
"Lihat ini. Rupiah. Stabil, eksotis, penuh misteri. Kita harus beralih ke Rupiah sebagai mata uang cadangan!"
Artikel Terkait
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Duel drone di langit Haifa
CERPEN: Kupu-kupu hitam di langit Teheran
CERPEN: Kaca pecah di Negev
Iran bantah rencana negosiasi nuklir dengan AS, Menlu Araghchi sebut Washington penuh kontradiksi
WNI ceritakan momen mencekam saat perang Iran-Israel: Setiap malam ada serangan