CERPEN: Kaca pecah di Negev

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 23 Juni 2025 | 23:15 WIB
Ilustrasi - Bangunan-bangunan kuno di Iran
Ilustrasi - Bangunan-bangunan kuno di Iran

Baca Juga: DPRD Subang genjot pembahasan Raperda Perampingan OPD, dorong efisiensi dan inovasi birokrasi

"Patung Khamenei ini, dia mencoba membuat gelombang di Selat Hormuz, tapi aku punya jeli oranye yang lebih besar! Ini semua tentang jeli! Percayalah!" ujarnya.

Di tengah gurun Negev yang bergejolak, di atas tumpukan reruntuhan yang dulunya adalah sebuah desa, Benjamin Netanyahu menari balet.

Ia mengenakan tutu militer berwarna zaitun, dengan sepatu balet yang ujungnya terbuat dari pecahan proyektil. Gerakannya aneh, kombinasi antara tarian klasik dan gerakan menghindar dari ledakan yang beruntun.

Ia tidak mengeluarkan perintah, tidak meluncurkan misil. Ia hanya menari, dan entah bagaimana, setiap putaran dan lompatannya seolah mengarahkan arah pertempuran.

Baca Juga: KPK periksa Ustaz Khalid Basalamah terkait dugaan korupsi kuota haji Kemenag

"Hak untuk membela diri," ia mendesis, pirouettenya menciptakan pusaran debu.

"Adalah hak untuk melakukan grand jeté ke arah musuh yang tak terlihat! Mereka pikir aku mengirimkan rudal. Tidak! Aku mengirimkan pesan melalui seni!" ujarnya.

Di Yaman, seorang pemberontak Houthi menembakkan panah, tetapi yang keluar dari busurnya adalah gelembung sabun raksasa yang meledak di langit, meninggalkan jejak pelangi sesaat.

Di Lebanon, prajurit Hizbullah melempar granat yang mengeluarkan musik disko alih-alih ledakan. Dan di Irak, kelompok bersenjata menggunakan senapan mereka sebagai alat musik tiup, menciptakan melodi sumbang yang mengiringi tarian absurd di Negev.

Baca Juga: Retret gelombang II jadi momen evaluasi program prioritas, Wamendagri: Sudah ada feedback dari daerah

Semakin sengit pertempuran, semakin abstrak lukisan Khamenei, semakin kacau jeli Trump, dan semakin liar tarian Netanyahu. Tidak ada yang tahu siapa yang menyerang siapa, atau mengapa.

Para diplomat berteriak melalui telepon yang terbuat dari benang dan kaleng bekas, mencoba memahami logika di balik kekacauan. Namun, tidak ada logika, hanya interpretasi.

Pada akhirnya, perang itu tidak berakhir dengan gencatan senjata atau perjanjian damai. Perang itu memudar, seperti lukisan yang mengering, jeli yang menguap, dan penari yang kelelahan.

Netanyahu tersandung dan jatuh, meninggalkan jejak sepatu balet di gurun. Trump, bosan dengan jeli oranye, mulai membentuk patung baru dari keju cheddar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X