Baca Juga: Cloudflare gagalkan serangan DDoS terbesar dalam sejarah: 37,4 terabyte data hanya dalam 45 detik
Dan Khamenei, setelah sapuan kuas terakhir, meletakkan alatnya dan mengangguk puas. Kanvasnya kini hanya menunjukkan sebuah titik hitam di tengah kekosongan, seperti lubang hitam yang menelan seluruh keriuhan.
"Selesai," bisiknya.
"Pertempuran telah mengungkapkan esensinya: ketiadaan." sambungnya.
Dan dunia, yang menyaksikan kekacauan ini, bertanya-tanya, apakah perang itu benar-benar terjadi, atau hanya sebuah mimpi buruk kolektif yang dipicu oleh tiga individu yang terlalu dalam tenggelam dalam realitas surealis mereka sendiri.
Baca Juga: Yamaha luncurkan warna baru Fazzio Hybrid, warganet pertanyakan inovasi nyata
Tiba-tiba terdengar bunyi keras dering telepon di tangan Putin, sebuah suara dari Korea Utara dan Beijing datang bersamaan.
"Hallo, Tuan Putin, ini suara dari Kim Jong Un dan Xi Jinping, kini saatnya kita luluhlantakkan Washington dan Tel Aviv!"
Blaarrrrr ....
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Artikel Terkait
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
Puisi : Episode 'Hujan, Desember 2020
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Sinopsis buku antologi puisi 'Gemuruh Palung Hati' karya Ai Lundeng
CERPEN: Duel drone di langit Haifa
CERPEN: Kupu-kupu hitam di langit Teheran