ESAI : Sekolah di masa depan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 3 Februari 2023 | 14:02 WIB
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan

Pernyataan Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Gehbreyesus serta pendiri perusahaan teknologi terkemuka Microsoft Bill Gates, menarik untuk kita cermati. Keduanya sepakat bahwa Covid -19 bukanlah pandemi terakhir di muka bumi.

Dalam beberapa tahun mendatang, umat manusia di muka bumi kemungkinan besar akan kembali menemui kondisi sebagaimana kita hadapi saat ini.

Adapun pertanyaan tentang kapan pandemi berikutnya akan terjadi serta bagaimana daya rusaknya, akan sangat bergantung pada sejauh mana keseriusan manusia dalam menyikapi perubahan iklim serta kesejahteraan hewan.

Apa yang disampaikan oleh kedua orang hebat tersebut seakan mengingatkan kita akan sebuah situasi yang kita kenal dengan istilah VUCA (Volatility, Uncertainity, Complexity, Ambiguity).

Baca Juga: Penyair Wiji Thukul dan 7 puisi perlawananya terhadap ketidakadilan

Di dunia pendidikan sendiri, situasi yang penuh dengan ketidakpastian (uncertainity) tersebut sedang kita alami sejak dua tahun yang lalu dan tidak seorang pun dapat memprediksi kapan “ketidakberesan” ini akan benar – benar berakhir.

Di sisi lain, adanya anggapan bahwa pandemi hanyalah sebuah sarana untuk mempercepat transisi digital di berbagai bidang kehidupan manusia, nampaknya perlu benar-benar kita renungkan.

Optimalisasi teknologi informasi di bidang pendidikan menjadi sebuah keniscayaan sebagai upaya untuk melahirkan berbagai inovasi serta efisiensi.

Artinya, di masa yang akan datang, sekolah dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dimana pemanfaatan teknologi informasi secara maksimal menjadi salah satu karakteristiknya.

Konsekuensinya, kegiatan pembelajaran di masa depan haruslah berbeda dengan pembelajaran yang saat ini kita jalankan.

Baca Juga: Hati-hati, inilah bahaya minum air es setiap hari menurut dr. Zaidul Akbar

Kegiatan belajar antara 5 sampai dengan 6 hari per pekan (dari pagi hingga petang) sudah saatnya kita tinjau ulang.

Pendekatan hybrid-blended learning sudah semestinya diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah.

Bukan hanya itu, kehadiran teknologi metaverse dipastikan akan memberikan dampak yang luar biasa bagi sekolah - sekolah dalam beberapa tahun ke depan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X