Aktivisme lokal bukan soal meniru gerakan besar di kota-kota lain. Ia berangkat dari keberanian anak mudanya membaca tanah kelahirannya sendiri. Membaca desa, kota, ruang publik, dan kebijakan yang hadir di sekitarnya.
Dari proses membaca itulah lahir sikap, mendukung yang berpihak pada kepentingan publik, dan mengkritik yang menjauh dari keadilan sosial.
Widji Tukul pernah mengingatkan bahwa diam adalah pengkhianatan. Namun sebelum bersuara, seseorang perlu memahami apa yang sedang ia suarakan.
Di sinilah literasi berperan menjaga aktivisme tetap bermartabat. Aktivisme yang sehat tidak sekadar keras, tetapi juga bertanggung jawab secara intelektual dan moral.
Di era digital, ketika setiap orang bisa berbicara di media sosial, tantangan aktivisme justru semakin besar. Informasi berseliweran, opini bercampur emosi, dan kebenaran sering kalah oleh sensasi.
Tanpa literasi yang kuat, aktivisme mudah terseret arus hoaks dan polarisasi. Sebaliknya, dengan literasi, aktivisme bisa menjadi penjernih ruang publik.
Pada akhirnya, literasi dan aktivisme adalah dua sisi dari kesadaran yang sama. Literasi membentuk cara berpikir, aktivisme mewujudkan keberpihakan.
Baca Juga: Pengakuan Beby Prisillia usai Onad bebas rehabilitasi narkoba: Saya tak bisa tinggalkan dia sendiri
Keduanya dibutuhkan agar anak muda tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut menentukan arah masa depan masyarakatnya.
Aktivisme yang berangkat dari literasi bukanlah kegaduhan sesaat. Ia adalah upaya panjang menjaga kepentingan publik, merawat akal sehat, dan membangun martabat sosial, baik di tingkat nasional maupun di tanah kelahiran sendiri.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta