Menunjukkan disiplin ilmu bukan sekadar menyebut gelar atau profesi.
Ini adalah upaya membangun kepercayaan publik bahwa pendapat yang kita sampaikan memiliki landasan yang kuat.
Ketika seseorang mengemukakan pandangan disertai latar belakang pendidikan, disiplin ilmu, profesi, dan pengalaman, publik akan lebih mudah menilai validitas pendapat tersebut.
Di era banjir informasi, siapa saja bisa berbicara. Namun, tidak semua yang berbicara memiliki kapasitas yang memadai.
Baca Juga: Tembak mati 3 polisi di lokasi judi, Kopda Bazarsah divonis hukuman mati
Di sinilah pentingnya memperkenalkan latar belakang diri sebelum memberikan pandangan, bukan untuk pamer, melainkan untuk memberi konteks.
Misalnya, seorang dokter yang berbicara soal kesehatan akan lebih didengar jika ia menjelaskan bahwa pengalamannya bertahun-tahun di dunia medis mendukung argumennya.
Demikian pula seorang insinyur, akademisi, atau jurnalis yang membahas bidangnya masing-masing.
Transparansi ini menjadi bentuk pertanggungjawaban moral. Masyarakat bisa menimbang informasi yang diterima berdasarkan kompetensi pembicaranya.
Baca Juga: Buang limbah ke Ciliwung, 4 hotel di Puncak disegel Kementerian Lingkungan Hidup
Ini juga menjadi filter alami untuk melawan hoaks dan pendapat yang hanya didasarkan pada asumsi.
Tentu, keterbukaan ini harus diiringi dengan kerendahan hati. Sebab, menyampaikan pendapat sesuai bidang keahlian bukan berarti merasa paling benar, melainkan berkontribusi memberikan informasi yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, berbicara sesuai disiplin ilmu dan menunjukkan latar belakang dengan jujur adalah bagian dari etika komunikasi publik yang sehat.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta