Dahulu kala, atau lebih tepatnya kala dahulu, di sebuah dimensi ruang dan waktu yang hanya bisa diakses lewat mimpi para kritikus sastra yang terlalu banyak minum kopi, terhampar sebuah padang luas bernama Padang Horison Sastra.
Di sanalah, para penyair, kritikus, dan filolog yang telah tiada berkumpul, tidak untuk beristirahat, melainkan untuk melanjutkan perdebatan abadi mereka tentang makna, gaya, dan nasib kata-kata.
Suasana di sana selalu ramai, seperti pasar ikan yang baru saja menemukan filsafat eksistensialisme. Acapkali hadir Foucault, Derrida, Rumi, Rendra dan Umberto Echo serta tokoh-tokoh absurd lainnya.
Baca Juga: Jens Raven resmi gabung Bali United, teken kontrak tiga musim jelang Liga 1 2025-2026
Suatu pagi di bulan Juni yang aneh, karena di alam sana, bulan Juni bisa datang dan pergi sesukanya tanpa izin kalender, terdengar kabar heboh.
Sebuah puisi baru telah tiba, melayang-layang seperti layang-layang putus yang membawa pesan penting. Judulnya, 'Matinya Puisi di Bulan Juni.'
Begitu puisi itu mendarat di hadapan kerumunan, muncullah dua sosok legenda, Chairil Anwar, dengan rambut klimisnya yang legendaris dan tatapan matanya yang seolah selalu ingin menantang gravitasi, dan H.B. Jassin, sang Paus Sastra Indonesia, dengan kacamata tebalnya yang selalu tampak siap membongkar setiap silabel.
Chairil, dengan gaya necis khasnya yang seolah baru saja bangun dari tidur panjang tapi langsung siap berdebat, menyeringai.
Baca Juga: Anies Baswedan cerita penamaan stasiun MRT ‘ASEAN’: Jakarta bukan sekadar ibu kota RI
"Ha! Matinya Puisi di Bulan Juni! Apa ini? Estetika kematian? Konsep nihilisme dalam diksi yang baru? Atau hanya kegalauan musiman seperti diare kambuhan?"
Jassin menyorongkan kacamata. "Chairil, jangan remehkan. Ini bukan sekadar 'diare kambuhan.' Ini adalah representasi metaforis dari krisis eksistensial subjek liris dalam menghadapi sterilitas kreatif di tengah disonansi temporal.
Puisi ini, secara ontologis, mencoba mempertanyakan regenerasi artistik pasca-modernisme!"
Chairil mendengus geli. "Ah, Jassin. Kau ini terlalu banyak membaca buku tebal sampai kepalamu jadi kuburan kata-kata. Matinya puisi itu ya mati. Selesai! Titik! Puisi itu pemberontakan, bukan teori!"