Resolusi: Menjembatani Kesenjangan dan Merangkul Masa Depan
Baca Juga: ESAI: Tak ada sejarawan yang dilahirkan oleh kampus, mereka hanyalah pencatat jejak
Di tengah semua perubahan ini, sastra Indonesia dihadapkan pada sejumlah resolusi penting, seperti: Mengintegrasikan Tradisi dan Inovasi.
Kemunculan kualitas vs. popularitas terus terjadi dengan massif. Tantangan utama adalah menjaga kualitas karya sastra di tengah banjir konten digital. Tidak semua yang populer memiliki nilai sastra yang tinggi (Arifin, 2021).
Perlu ada mekanisme kurasi dan pendidikan literasi digital yang kuat untuk memilah informasi dan karya yang kredibel (Nugraha, 2022; Yanti et al., 2021).
Terjadinya hibridisasi genre di era digital. Pentingnya mendorong eksperimen genre baru yang menggabungkan elemen tradisional dengan fitur digital (misalnya, puisi visual, narasi interaktif).
Baca Juga: Bupati Reynaldy: Pembangunan Subang dimulai dari utara, rumah sakit Pantura siap dibangun 2028
Penguatan literasi digital dalam pembelajaran sastra
Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu membuat kebijakan dan sarana yang mendukung pengembangan literasi digital di sekolah, meningkatkan motivasi, minat, dan keterampilan siswa untuk membaca dan menulis Bahasa Indonesia di era digital (Morfologi: Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya, 2023).
Guru dan dosen sastra harus melek digital dan mampu memanfaatkan platform digital untuk memotivasi dan memfasilitasi pembelajaran sastra (Proceeding Unnes, t.t.; UIN Jakarta, 2023).
Memperkuat ekosistem sastra digital
Mendorong kolaborasi antara sastrawan, pegiat literasi, developer teknologi, dan penerbit untuk menciptakan platform yang inovatif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Polres Subang ungkap 16 kasus narkoba, 18 tersangka diamankan dalam operasi April–Juni 2025
Membangun kesadaran akan hak cipta dan etika digital di kalangan penulis dan pembaca.
Menjaga identitas bahasa dan budaya