Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, melainkan sebuah kecakapan komprehensif yang melibatkan kemampuan bersosialisasi, berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif dalam lingkungan digital (Sutrisna, 2020; Harjono, 2018).
Baca Juga: Politik kaum muda jadi kunci masa depan Subang, Pengamat: Saatnya milenial dan Gen Z tentukan arah
Dalam konteks sastra, literasi digital mengubah lanskap secara fundamental berupa transformasi produksi, ditandai dengan penulis yang melek digital.
Sastrawan kini memanfaatkan word processor, aplikasi grammar checker, dan platform online untuk menulis. Proses kreatif menjadi lebih fleksibel dan instan.
Tumbuh demokratisasi penulisan. Platform seperti Wattpad, Storial.co, atau media sosial (Twitterature, Instagram Poetry) memungkinkan siapa pun untuk menerbitkan karya tanpa melalui 'baptisan' editor atau penerbit tradisional (Arifin, 2021).
Hal ini membuka ruang bagi suara-suara baru yang mungkin terpinggirkan di masa lalu.
Baca Juga: Forum Arus Bawah gelar ngopi bareng, bahas arah baru Subang 'Ngabret'
Munculnya genre baru yang sangat cepat, secepat Gen-Z dan Generasi Alpha men-scroll smart phone di tangannya.
Kemunculan sastra siber (cyber literature) atau sastra digital yang membutuhkan penggunaan komputasi digital dan interaksi non-linear (USD Repository, 2022).
Munculnya transformasi diseminasi dengan kecepatan tinggi. Karya sastra dapat beredar dengan sangat cepat dan menjangkau audiens global yang luas melalui internet (USD Repository, 2022).
E-book, audiobook, dan podcast sastra menjadi alternatif format yang semakin populer.
Baca Juga: Prabowo tegaskan dukungan penuh bagi kemandirian industri pertahanan nasional
Pun transformasi konsumsi dan apresiasi. Pembaca dapat mengakses ribuan karya sastra kapan saja dan di mana saja (Pratiwi & Pritanova, 2017).
Minat bersastra, terutama bagi kaum muda, dapat meningkat karena kemudahan akses dan interaksi melalui media sosial (Pratiwi & Pritanova, 2017).
Terjadi pergeseran dari apresiasi pasif menjadi apresiasi partisipatif, di mana pembaca dapat langsung berinteraksi dengan penulis, memberikan komentar, dan bahkan menciptakan karya fan fiction.