Revolusi industri 4.0 yang digadang-gadang membawa kemajuan, nyatanya juga menyisakan jurang ketimpangan baru.
Sementara segelintir pihak diuntungkan dengan efisiensi dan otomasi, jutaan pekerja kehilangan pekerjaan atau terjebak dalam ekonomi digital yang penuh ketidakpastian.
Ironisnya, hak-hak dasar seperti cuti, jam kerja wajar, dan perlindungan jaminan sosial masih menjadi barang mewah bagi banyak pekerja hari ini.
Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa tak ada hak yang diberikan begitu saja. Semua diraih lewat perjuangan.
Maka Hari Buruh adalah hari untuk mengingat bahwa di balik setiap jembatan, gedung, aplikasi, dan layanan publik—ada kerja manusia yang sering kali tidak terlihat, tidak dihargai, bahkan dilupakan.
Kita perlu lebih dari sekadar peringatan. Kita butuh kebijakan publik yang berpihak, penegakan hukum ketenagakerjaan yang tegas, dan budaya politik yang menghargai kerja, bukan sekadar kapital.
Buruh bukan mesin. Mereka adalah manusia yang pantas mendapat penghidupan layak, pendidikan, kesehatan, dan masa depan.
Dalam kata-kata Rosa Luxemburg: "Buruh bukan hanya penggerak ekonomi, tapi denyut nadi demokrasi." Maka selama masih ada ketimpangan, selama masih ada pekerja yang tertindas, perjuangan belum selesai.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta