Yang lebih menyedihkan adalah bagaimana arus informasi kini menggilas perlahan-lahan kemampuan kita untuk menyimak dan merenung.
Buku diganti oleh video yang berlalu dalam lima belas detik, diskusi diganti oleh amarah di kolom komentar, dan pemahaman diganti oleh keyakinan instan.
Hannah Arendt menyebutnya sebagai 'kekosongan berpikir', kondisi di mana masyarakat tak lagi memiliki ruang untuk kontemplasi karena dibanjiri oleh distraksi.
Kita sedang mengalami krisis epistemologis yang mendalam. Membaca bukan lagi tentang mengolah informasi, tapi tentang keberanian untuk memahami dunia dan diri sendiri secara utuh. Membaca berarti merawat kepekaan.
Baca Juga: Sebanyak 3 toples cacing pita ditemukan di perut anak 3 tahun di Jember, keluhannya sudah 6 bulan
Ia adalah tindakan radikal dalam masyarakat yang lebih menghargai konsumsi daripada refleksi. Dan lebih dari itu, membaca adalah wujud perlawanan terhadap sistem yang ingin menjadikan kita manusia tanpa kesadaran, robot yang hidup dalam rutinitas, yang bergerak tanpa bertanya ke mana.
Namun, harapan tidak pernah mati. Dalam satu anak yang diajari untuk bertanya, terdapat kemungkinan lahirnya generasi yang mampu melihat dunia bukan hanya dari apa yang dikatakan oleh buku, tetapi juga dari apa yang tak sempat dituliskan.
Simone Weil pernah menulis bahwa 'perhatian yang tulus adalah bentuk tertinggi dari kemurahan hati.' Mengajari anak bertanya adalah memberi perhatian pada masa depan yang lebih jujur dan berpikir.
Esai ini bukan hanya tentang membaca. Ia tentang sebuah ruang imajinasi yang terampas. Tentang tubuh-tubuh muda yang tumbuh tanpa cerita, tanpa pelita. Tentang sistem yang takut pada orang-orang yang berani berpikir.
Baca Juga: Dukung Prabowo maju Pilpres 2029, Zulhas: 15 tahun koalisi sekutu sejati PAN dan Gerindra
Dan pertanyaannya kini bukan lagi sekadar bagaimana membuat anak-anak suka membaca. Tapi lebih dalam dari itu: sanggupkah kita menciptakan dunia di mana membaca adalah bentuk keberanian?
Dapatkah kita membayangkan sebuah bangsa yang tak takut pada rakyatnya yang gemar bertanya?
Jika buku adalah artefak yang menyimpan kenangan panjang umat manusia, maka cara kita memperlakukan buku adalah refleksi dari bagaimana kita memperlakukan masa depan.
Maka sebelum bertanya pada anak, 'mengapa kamu tak membaca?', lebih dulu kita harus bertanya pada diri sendiri, 'apa yang sudah kita lakukan agar membaca bisa menjadi dampak nyata untuk kehidupan yang lebih baik".