Sebagaimana dikritisi oleh sosiolog Ariel Heryanto, Orde Baru membentuk identitas perempuan Indonesia sebagai sosok domestik, dan penurut.
Kartini menjadi bagian dari propaganda pembangunan—diabadikan bukan sebagai penggugat, melainkan sebagai simbol perempuan yang dirias dan ditata.
Hari ini, Hari Kartini adalah acara lomba rias, lomba merangkai bunga, memasak, atau mencanting batik.
Perayaan ini adalah penjinakan simbolik. Kita merayakan Kartini tanpa mengenal marahnya, tanpa menyelami pertanyaannya, tanpa menghidupkan pikirannya.
Baca Juga: Viral petani asal Bojonegoro keluhkan harga gabah anjlok ke Bupati Setyo Wahono: Enggak jadi umroh!
Kita menjadikan Kartini sebagai 'artefak', seperti kata Roland Barthes, 'yang telah diberi makna oleh sistem tanda, bukan oleh keberadaan nyatanya.' Kita tidak membaca Kartini; kita hanya memajangnya. Padahal, bila Kartini hidup hari ini, ia bukan selebgram berkebaya.
Ia adalah aktivis media sosial yang menulis thread panjang di X (dulu Twitter), yang mengkritik sistem pendidikan yang diskriminatif, yang mempersoalkan peran perempuan di rumah tangga modern, yang mengecam kebijakan publik yang membungkam suara perempuan.
Ia akan bersuara keras, dan mungkin dianggap 'terlalu vokal' atau 'tidak perempuan'—seperti stigma yang kerap diterima perempuan vokal hari ini.
Simone de Beauvoir menulis, 'One is not born, but rather becomes, a woman.' Kalimat ini seolah menggambarkan transformasi Kartini dari seorang gadis bangsawan yang dibesarkan dalam struktur patriarki, menjadi perempuan yang sadar akan ketertindasannya.
Tapi kesadaran ini tidak kita warisi. Kita mewarisi kebaya, bukan keberanian. Kita merayakan riasannya, bukan tulisannya.
Apakah kita benar-benar menghormati Kartini, ataukah kita hanya memperingatinya karena takut pada gagasan yang sebenarnya ia bawa?
Kartini adalah perempuan yang menolak diam, namun hari ini ia dikisahkan agar perempuan kembali diam.