esai

ESAI: Membaca ulang surat-surat Kartini di bawah tumpukan kebaya

Senin, 21 April 2025 | 15:03 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Tidak dibayar hampir Rp1 miliar, mitra MBG di Kalibata polisikan oknum yang lakukan penggelapan dana

Meskipun ia pelajar yang pandai, guru-guru Belanda menolak memberinya nilai terbaik karena dia anak Jawa. Ini bukan hanya diskriminasi akademik.

Ini adalah bentuk perampasan martabat intelektual. Dan dari sini, muncul satu ironi besar: pengetahuan diproduksi, tetapi akses terhadapnya dijaga oleh pagar kekuasaan kolonial dan patriarki.

Kartini menulis surat kepada pemerintah Hindia Belanda untuk meminta izin belajar ke Belanda. Ini bukan sekadar permohonan administratif. Ini sebuah momen perlawanan epistemik.

Ia mempertanyakan siapa yang berhak memiliki ilmu, dan mengapa tubuh perempuan pribumi dilarang mengakses dunia yang lebih luas. Tapi kekuasaan selalu khawatir pada perempuan yang berpikir.

Baca Juga: Nestapa korban skandal eksploitasi eks pemain sirkus Taman Safari: Alami kecelakaan serius namun diobati ala kadarnya

Kartini dilarang berangkat. Pemerintah takut ia menjadi 'masalah', bukan karena ia membawa bom, tapi karena ia membawa gagasan. Ia dapat mengoyak tatanan.

Dan kemudian: pernikahan. Kartini menikah dengan Bupati Rembang, namun bukan tanpa syarat.

Ia menetapkan tiga hal yang menggemparkan norma sosial Jawa: tidak mau mencium kaki suaminya, tidak mau berjalan jongkok di hadapannya, dan tidak mau berbahasa kromo inggil.

Ini adalah pembangkangan simbolik. Kartini meruntuhkan simbol-simbol kekuasaan patriarki dengan tubuhnya sendiri sebagai arena perlawanan.

Baca Juga: Beredar video keluhan petani asal Lampung soal harga gabah anjlok di bawah HPP: Padahal ini padi kualitas tinggi!

Di sinilah ia menjadi tokoh yang dalam istilah Judith Butler, 'mengganggu performativitas gender' yang dikonstruksi oleh sistem.

Namun, seperti kata Walter Benjamin, sejarah ditulis oleh para pemenang. Kartini yang kritis dan meledak-ledak dibungkam oleh sejarah yang ingin meredam bara.

Surat-suratnya dibukukan oleh J.H. Abendanon dalam judul 'Door Duisternis tot Licht'—Habis Gelap Terbitlah Terang. Judul ini indah, namun problematik.

Ia menjadikan perjuangan Kartini sebagai narasi romantis ketimbang perjuangan politik. Dan pada masa Orde Baru, Kartini yang 'galak dan ngegas' direduksi menjadi perempuan yang ayem tentrem dan penuh 'etika Jawa'.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB