Bahwa harga diri dapat ditukar dengan panggung, dan bahwa skandal adalah jalan pintas menuju popularitas?
Seandainya tokoh seperti Mahatma Gandhi hidup hari ini, barangkali ia akan menyebut ini sebagai bentuk baru dari kekerasan kultural: kekerasan yang tidak menumpahkan darah, tetapi mengikis makna.
Ia pernah berkata, "The roots of violence are wealth without work, pleasure without conscience, knowledge without character." Maka kita bisa menambahkan satu akar baru dalam daftar itu: sensasi tanpa etika.
Kita hidup di zaman yang memuja kecepatan—viral dalam hitungan detik, terkenal dalam semalam. Tapi barangkali yang kita butuhkan sekarang bukanlah kecepatan, melainkan kedalaman.
Baca Juga: Kebijakan Trump ternyata untungkan salah satu ‘harta karun’, Indonesia bisa raup untung besar
Kedalaman untuk merenung sebelum menilai. Kedalaman untuk bertanya sebelum mengangkat seseorang ke panggung publik. Kedalaman untuk menyadari bahwa apa yang kita soroti akan membentuk apa yang akan kita teladani.
Dalam dunia yang semakin riuh, barangkali tugas kita bukan untuk berteriak lebih keras, tetapi untuk mendengar lebih jernih: suara nurani, suara nilai, suara akal sehat.
Dan pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita simpan baik-baik adalah ini: Apakah kita masih sanggup menciptakan ruang publik yang bermakna, di mana integritas tidak kalah oleh viralitas, dan di mana kebajikan tidak dibungkam oleh algoritma rating? Jika jawabannya masih 'ya,' maka kritik ini bukan sekadar amarah.
Ia adalah bentuk cinta: cinta kepada generasi yang akan datang, cinta pada profesi guru yang mulia, dan cinta pada media yang seharusnya tercerahkan.
Karena pada titik terdalam dari semua ini, yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya reputasi sebuah stasiun televisi, tetapi kemanusiaan kita sendiri.
Fileski Walidha Tanjung, penulis dan penyair kelahiran madiun 1988. Aktif menulis cerpen, puisi, esai di berbagai media nasional.