esai

ESAI : Narpit, jualan obat, AI dan kaum yang jumud

Kamis, 6 Februari 2025 | 23:30 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Saya selalu percaya, bahwa manusia adalah tempat perubahan, namun jangan sampai berubah ke arah yang suul khotimah (buruk di akhir). Kita mesti husnul khotimah, supaya masuk sorga. Meureun sih!

Baca Juga: Dugaan rem blong yang bikin slip mobil besar kembali terulang, kini terjadi di gerbang tol Ciawi yang libatkan truk tangki air vs 6 mobil

Jadi wahey Narpit, berhentilah mendakwahkan waham Ndobosime ya. Sebagai kaka tingkat (anjrit teh aing euy kudu nerima kenyataan), kau masih muda, masih terbentang jalan untuk bertaubat.

Berhentilah menjadi pedagang obat yang menggunakan strategi jitak, lalu ditawarkan obatnya. Berhentilah menjadi pembuat virus, lalu mendagangkan anti-virusnya.

Tulisan ini bermaksud mewartakan kepada berbagai kalangan, terutama kepada kaum jumud terhadap AI, bahwasannya menangkis waham buruk itu tergolong jihad dalam rangka menegakkan amar ma'ruf nahil munkar. Cag!

Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB