esai

ESAI : Narpit, jualan obat, AI dan kaum yang jumud

Kamis, 6 Februari 2025 | 23:30 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Sial kedua, dia juga lulusan UPI, beda jurusan dan angkatan dengan saya, dan untungnya, dia tak masuk ke grup ASAS yang lulusannya antara lain: Ujianto Sadewa, Willy Fahmy Agiska, Faisal Syahreza, Edwar Maulana, Wida Waridah, dan lain-lain.

Baca Juga: Insiden di gerbang tol Ciawi: 2 dari 8 korban tewas teridentifikasi hingga jumlah mobil yang hangus terbakar

Berdasarkan informasi dari Taufiq Rahman Nawawi, Narpit pernah menghebohkan fakultas FPBS, karena dia membawa selebaran, dan mengatakan ia menerima undangan baca puisi dari panitia festival di Amerika serikat.

Informasi ini dibawa ke Fakultas, hingga membuat Pembantu Dekan urusan mahasiswa terkagum-kagum. Begitu diperiksa, ternyata itu hanya brosur yang disebar bebas, atau dikirimkan ke orang-orang tertentu melalui email.

Tapi untuk berangkat ke sana, penerima brosur harus mengadakan uang sendiri untuk transportasi, akomodasi, termasuk konsumsi sampingan. Jelas dong PD urusan mahasiswa tak mau mendanai Narpit.

Dalam hal terima brosur ini, sama juga dengan DJA, mengumumkan sastrawan Indonesia yang menerima undangan meraih Nobel dari Panitia adalah DJA, padahal cuma brosur yang bisa diunduh oleh siapapun. Euh, ini mah ndobos kan?

Baca Juga: Rencana AS ambil alih kota kecil Palestina, Trump: Kami akan menyingkirkan bangunan yang hancur di Gaza

Kaum Ndobos ini sering berkata seperti ini, menurut Dobosky… terkesan nama intelektual dari Rusia.

Begitu dicari lewat mesin terlusur nama Dobosky sebagai pakar sastra misalnya, ternyata tidak ada.

Begitulah kaum Ndobos seperti Narpit atau DJA, yang sedikit-sedikit dalam tulisannya mengatakan, menurut Disbosky, semiotik adalah tai kucing rasa coklat. Nah, Ndobosime adalah waham yang harus kita tangkal, kan?

Hal ketiga yang bikin sial, waham Narpit ini telah memakan banyak korban, termasuk doktor dari Mbandung yang nganu, yang kini telah menjadi profesor itu, yang mengagumi Narpit. Meng-syedihkan bukan Kyai Shiny Ane El'poesya?

Baca Juga: 19 Korban akibat insiden maut di gerbang tol Ciawi, ini cerita istri yang ungkap detik-detik suaminya tewas terseret truk saat ke luar dari mobil

Narudin ini suka mengingatkan saya pada Nuruddin. Bedanya terasa tipis namun tebal.

Dalam Quran, Nar itu seringkali diartikan sebagai neraka, sedangkan Nur diartikan sebagai pelita: litukhrijannasa minaddulumati ilannuur: membawa manusia dari kegelapan pada cahaya.

Narudin itu orang yang santun, tapi akalnya goblok. Nuruddin itu orangnya goblok, tapi akalnya santun. Dua entitas yang dapat menjadi tesis antitesis.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB