Baca Juga: GERAK gelar 'Ngopi Senja' menakar kontribusi APBD Jakarta dalam penguatan ekonomi masyarakat
Nah, mereka yang masih menggerutu, ngedumel, menyebarkan waham seperti Narpituisme, rasa-rasanya itu adalah kaum jumud yang terhijab untuk mendapatkan Nur Jatnika dari Hyang Tunggal, nan Widi Wassa.
Karena puisi karya filsafat, maka seorang penyair serius akan melakukan riset tanpa diperintah. Nah, berkah dari AI ini adalah mempermudah riset.
Pulo Lasman mengirimkan tulisan itu ke PPP, yang berkali-kali diumumkan di PPP, postingan di luar konteks lomba akan langsung dihapus.
Tapi tampaknya Lasman tak membaca pengumuman, sehingga mengirimkan tulisan pendapat Narpit itu.
Sangat meng-syedihkan kalau kata Kyai Aris Kurniawan, masyarakat sastra ko tak gemar membaca bahkan untuk pengumuman yang simpel seperti itu.
Narpit, DJA dan Ndoboisme
Nah ini, dua manusia yang berjalan di jalur sama namun bedanya seperti langit dan bumi. Yang satu meminta, yang satu menabur di jalur serupa, yaitu ndobos.
Narpit mengeritik DJA begitu sengit. Lalu dikasihlah receh oleh DJA, maka berbaliklah Narpit begitu menyunjang-nyanjung DJA.
Hingga dua kali, it’s oke-lah dikasih. Minta yang ketiga, ya ditabok. Maka baliklah Narpit mengeritik lagi DJA. Lucu kan?
Jadi, saya menempatkan Narpit sebagai pelawak. Namun narpituisme-nya itu bisa menjadi bahaya latin yang harus ditangkal dengan betadine.
Sialnya, dia itu orang Subang, sama dengan Kyai Noorca Massardi and brother, atau Kyai Hawe Setiawan.
Saya juga lahir di Subang, tapi dari TK besar di Bandung. Saya mau bilang, orang Subang yang seperti Narpit, ya hanya Narpit, betul kan Pak Kin Sanubary?