esai

ESAI : Narpit, jualan obat, AI dan kaum yang jumud

Kamis, 6 Februari 2025 | 23:30 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Baca Juga: GERAK gelar 'Ngopi Senja' menakar kontribusi APBD Jakarta dalam penguatan ekonomi masyarakat

Nah, mereka yang masih menggerutu, ngedumel, menyebarkan waham seperti Narpituisme, rasa-rasanya itu adalah kaum jumud yang terhijab untuk mendapatkan Nur Jatnika dari Hyang Tunggal, nan Widi Wassa.

Karena puisi karya filsafat, maka seorang penyair serius akan melakukan riset tanpa diperintah. Nah, berkah dari AI ini adalah mempermudah riset.

Pulo Lasman mengirimkan tulisan itu ke PPP, yang berkali-kali diumumkan di PPP, postingan di luar konteks lomba akan langsung dihapus.

Tapi tampaknya Lasman tak membaca pengumuman, sehingga mengirimkan tulisan pendapat Narpit itu.

Baca Juga: Belum dinaturalisasi PSSI, kiper di liga Italia ini tarik perhatian usai diklaim klub barunya sebagai 'orang Indonesia’

Sangat meng-syedihkan kalau kata Kyai Aris Kurniawan, masyarakat sastra ko tak gemar membaca bahkan untuk pengumuman yang simpel seperti itu.

Narpit, DJA dan Ndoboisme

Nah ini, dua manusia yang berjalan di jalur sama namun bedanya seperti langit dan bumi. Yang satu meminta, yang satu menabur di jalur serupa, yaitu ndobos.

Narpit mengeritik DJA begitu sengit. Lalu dikasihlah receh oleh DJA, maka berbaliklah Narpit begitu menyunjang-nyanjung DJA.

Hingga dua kali, it’s oke-lah dikasih. Minta yang ketiga, ya ditabok. Maka baliklah Narpit mengeritik lagi DJA. Lucu kan?

Baca Juga: Insiden di gerbang tol Ciawi: 2 dari 8 korban tewas teridentifikasi hingga jumlah mobil yang hangus terbakar

Jadi, saya menempatkan Narpit sebagai pelawak. Namun narpituisme-nya itu bisa menjadi bahaya latin yang harus ditangkal dengan betadine.

Sialnya, dia itu orang Subang, sama dengan Kyai Noorca Massardi and brother, atau Kyai Hawe Setiawan.

Saya juga lahir di Subang, tapi dari TK besar di Bandung. Saya mau bilang, orang Subang yang seperti Narpit, ya hanya Narpit, betul kan Pak Kin Sanubary?

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB