Baca Juga: GERAK gelar 'Ngopi Senja' menakar kontribusi APBD Jakarta dalam penguatan ekonomi masyarakat
Riri menegaskan, AI itu buatan manusia. Adalah bodoh dan menzalimi diri jika manusia tunduk pada AI. Artinya, kecerdasan manusia tetap tidak akan tertandingi, meskipun dalam film Bicentennial Man (1999) yang dibintangi Robin William, ternyata humanoid bisa mengalahkan manusia, sebab si robot cerdas itu, bahkan bisa merevolusi dirinya dari robot menjadi manusia beneran yang bisa kentut dan bercinta pada usianya yang ke-200.
3. Di masa depan baik Gen Alpha maupun Gen Z akan mencoba AI untuk menulis karya sastra (terutama puisi). Namun, itu hanya akan dilakukan oleh Gen Alpha dan Gen Z yang bukan penulis serius, hanya penulis sekadar, yang dapat disebut 'penulis naluri' alias penulis dengan dorongan nafsu binatang belaka, bukan atas nama intelektualitas tinggi atau pertimbangan akal sehat.
Komentar saya: Kok baru mencoba-coba di masa depan sih? Di masa kini pun, semua manusia dari berbagai negerasi sudah mencoba AI, bukan hanya untuk menulis, tapi juga untuk ekspresi di bidang lain, macam lukisan, logo, musikalisasi puisi seperti dilakukan panembahan Herry Dim, dan lain-lain.
Dari pernyataan ketiga itu, makin terlihat Narpit asal ucap, dan pewawancara tampaknya tidak mengetahui perkembangan penggunaan AI di tengah publik.
Memang penulis generasi yang sekarang usianya di atas 70 tahunan, cenderung jumud memandang perkembangan, dan mereka selalu bernostalgia ke belakang, seakan nilai terbaik berada di masa lalu.
Mereka tidak memandang ke depan, yang akan lebih gila lagi dengan aneka penemuan.
Repot juga jika sudah seperti itu, sebaiknya memang jangan menggunakan sosmed dan teknologi, supaya tidak menggerutu dan ngedumel melulu.
Mohon baca dah puisi Sang Anak karya Kahlil Gibran, semoga meraih aufklarung, dan tercerahkan seperti Sang Budha!
Wawancara itu dikirim oleh Laman ke grup PPP yang sedang mengadakan Lomba Cipta Puisi Piala Kebangsaan dengan tema Pagar Laut, yang dalam salah satu S&K nya membolehkan peserta menggunakan AI sebagai alat bantu, terutama misalnya untuk riset.
Memang Lomba ini menganjurkan para penyair melakukan riset mendalam terkait tema besar Pagar Laut itu, supaya puisi yang muncul bukan asal ucap, seperti mencret, kalau dalam istilah Rendra.
Puisi itu karya filsafat. Siapapun menulis puisi, bermaksud menyodorkan kebenaran dalam amanatnya, meski kebenaran versi manusia sifatnya adalah alternatif. Kebenaran absolut hanya milik kebenaran itu sendiri.
Jika kebenaran versi manusia bisa menyamai kebenaran absulut, itu hanya api Tuhan dalam batinnya menyala.