Novel Sang Tokoh bukan novel bertendensi, yang menurut Narpit, sama dengan novel Layar tekembang karya STA.
Saya menduga, Narpit tidak membaca tuntas novel, dan ia mengambil cuplikan-cuplikan yang dianggap penting menurutnya. Gaya tulisannya pun terasa kering, dan tak menyentuh substansi isi novel.
Memang banyak yang mengaku kritikus, memetakan sebuah karya dengan meminjam teori kritik dari Barat.
Ia bercerita tentang teori itu, kemudian mencontohkan aplikasinya dalam menilai karya. Metode seperti itu saya rasa tidak tepat. Kenapa?
Begini, teori dari Barat itu, lahir dari analisis terhadap karya yang muncul di sana, di Barat, lalu dipinjam oleh para kritikus kita untuk mengkaji objek (karya) yang dihasilkan sastrawan kita, maka tentu akan banyak janggalnya, sebab secara linguistik, terdapat perbedaan frase, sintaksis, dan wacana dalam karya sastra di Barat dengan yang ada di kita.
Analoginya begini: Teori Barat saya ibaratkan seperti garpu dan pisau yang digunakan untuk merecah steak, dibawa ke Indonesia, digunakan untuk merecah serabi atau ulen. Jelaslah janggal, walau memang tampak keren.
Sebaiknya para kritikus kita, menciptakan teori sendiri yang diberangkatkan dari penelitian karya yang beredar di kita.
Bukankah teori itu lahir dari hasil penelitian terhadap objek yang diteliti? Dan bukan meminjam teori dari luar untuk mengkaji objek yang ada di sini.
Bila itu yang dilakukan, memang Anda akan terlihat keren, karena orang sulit paham dengan bahasan Anda. Terhadap tulisan yang orang sulit paham, dalam hati saya suka ngagerentes: hadeuh dasar inlander!
Tulisan ketiga, adalah tulisan yang ini, yang berkaitan dengan penggunaan AI (artificial intelligen) sebagai alat bantu dalam mencipta karya kreatif, utamanya tulisan. Saya harus meng-counter ucapan Narpit karena bisa menjadi waham itu.
Narpit diwawancara oleh penyair cum jurnalis senior, Pulo Lasman Simanjuntak. Pertanyaan dari pewawancara, terlihat indikasi bahwa ia anti AI.
Ia meminjam seseorang yang dikira-kira atau dirasa bakal satu pendapat, untuk menyatakan pendapat ke halayak ramai.