esai

ESAI : Narpit, jualan obat, AI dan kaum yang jumud

Kamis, 6 Februari 2025 | 23:30 WIB
Doddi Ahmad Fauji, Editor Penerbit Situseni dan Penasehat Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat

Baca Juga: Kelakar Trump bakal bangun kembali Gaza yang kini hancur akibat perang hingga Netanyahu yakin perdamaian Israel vs Arab Saudi

Novel Sang Tokoh bukan novel bertendensi, yang menurut Narpit, sama dengan novel Layar tekembang karya STA.

Saya menduga, Narpit tidak membaca tuntas novel, dan ia mengambil cuplikan-cuplikan yang dianggap penting menurutnya. Gaya tulisannya pun terasa kering, dan tak menyentuh substansi isi novel.

Memang banyak yang mengaku kritikus, memetakan sebuah karya dengan meminjam teori kritik dari Barat.

Ia bercerita tentang teori itu, kemudian mencontohkan aplikasinya dalam menilai karya. Metode seperti itu saya rasa tidak tepat. Kenapa?

Baca Juga: Update terbaru korban penembakan 5 WNI di Malaysia, korban jiwa bertambah, total 2 orang meninggal dunia

Begini, teori dari Barat itu, lahir dari analisis terhadap karya yang muncul di sana, di Barat, lalu dipinjam oleh para kritikus kita untuk mengkaji objek (karya) yang dihasilkan sastrawan kita, maka tentu akan banyak janggalnya, sebab secara linguistik, terdapat perbedaan frase, sintaksis, dan wacana dalam karya sastra di Barat dengan yang ada di kita.

Analoginya begini: Teori Barat saya ibaratkan seperti garpu dan pisau yang digunakan untuk merecah steak, dibawa ke Indonesia, digunakan untuk merecah serabi atau ulen. Jelaslah janggal, walau memang tampak keren.

Sebaiknya para kritikus kita, menciptakan teori sendiri yang diberangkatkan dari penelitian karya yang beredar di kita.

Bukankah teori itu lahir dari hasil penelitian terhadap objek yang diteliti? Dan bukan meminjam teori dari luar untuk mengkaji objek yang ada di sini.

Baca Juga: ‘Ngabret’ janji Reynaldy pasca penetapan dirinya sebagai Bupati Subang 2024-2029: Insya Allah 5 tahun kedepan akan banyak perubahan

Bila itu yang dilakukan, memang Anda akan terlihat keren, karena orang sulit paham dengan bahasan Anda. Terhadap tulisan yang orang sulit paham, dalam hati saya suka ngagerentes: hadeuh dasar inlander!

Tulisan ketiga, adalah tulisan yang ini, yang berkaitan dengan penggunaan AI (artificial intelligen) sebagai alat bantu dalam mencipta karya kreatif, utamanya tulisan. Saya harus meng-counter ucapan Narpit karena bisa menjadi waham itu.

Narpit diwawancara oleh penyair cum jurnalis senior, Pulo Lasman Simanjuntak. Pertanyaan dari pewawancara, terlihat indikasi bahwa ia anti AI.

Ia meminjam seseorang yang dikira-kira atau dirasa bakal satu pendapat, untuk menyatakan pendapat ke halayak ramai.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB