Baca Juga: Mengapa MBG untuk ibu hamil hanya seminggu sekali? ini alasan dan usulan pengamat
Kehadiran platform media sosial tersebut secara cepat dan pasti telah merubah pola peradaban dan cara berkomunikasi manusia yang semakin cenderung menjadi komunikasi virtual.
Kemudahan berekspresi individu di media sosial juga telah mengubah manusia dari yang tadinya penutur diam (silent speaker) menjadi para netizen yang sangat vokal dan aktif dalam berkomunikasi virtual di dunia maya.
Konsekuensi dari kebebasan (freedom) berekspresi ini telah menjadikan begitu banyak efek dalam berkomunikasi seperti bias dan hoax, sebagai efek dari penggunaan teori algoritma yang mendifusi preferensi personal individul dalam mengakses informasi dan berkomunikasi sesuai dengan passion dan interest individu.
Entah kemudahan komunikasi macam apalagi yang akan kita hadapi di tahun tahun ke depannya pada saat kecanggihan teknologi yang terus berevolusi dengan begitu cepat.
Hadirnya Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan peradaban manusia saat ini juga telah mempengaruhi pola interaksi dan komunikasi sesama manusia.
Tentunya kita berharap secanggih apapun media komunikasi yang berkembang, tidak akan lantas semakin menjauhkan manusia dari sisi humanisme dalam berkomunikasi.
Jangan sampai kemajuan teknologi dan peradaban semakin menjauhkan sisi kemanusiaan itu sendiri yang menjadi pengendali sebuah peradaban.
Rudi Haryono, Penulis dan Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)