ESAI: Quo vadis komunikasi virtual

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 11 Januari 2025 | 15:29 WIB
Rudi Haryono, Penulis dan Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)
Rudi Haryono, Penulis dan Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)

Manusia saat ini hidup pada era komunikasi dan interaksi yang sangat instant, borderless, dan virtual-oriented.

Kecanggihan teknologi yang begitu pesat telah menjadikan komunikasi berlangsung tiada henti, kapan pun dan dimana pun selama ada sinyal internet atau data untuk berkomunikasi.

Kemudahan-kemudahan dalam berkomunikasi semakin 'menjauhkan' manusia dari gaya komunikasi langsung (direct communication) yang bersifat fisik, tatap muka, dan bermakna lengkap (meaningful) secara komunikasi verbal dan non-verbal.

Fenomena kecenderungan dan kemudahan berkomunikasi secara virtual tersebut tentunya tidak hanya menimbulkan dampak positif terkait kecepetan akses (speed) dalam berkomunikasi.

Baca Juga: Raker 2025, PT Dahana mantapkan langkah sebagai pemimpin industri bahan peledak

Namun juga telah merubah cara berpikir dan berkomunikasi masyarakat yang cenderung lebih memilih komunikasi virtual daripada komunikasi secara langsung fisik dan tatap muka.

Salah satu dampak dari komunikasi virtual yang begitu massif dan membudaya adalah berkurangnya kedekatan (closeness) hubungan interpersonal sesama individu.

Menurut Slater dan Willbur komunikasi interpersonal melibatkan tiga aspek yaitu ungkapan emosi (emotional expression), pengenalan nonverbal (nonverbal recognition) dan tingkat kedekatan interpersonal (the degree of interpersonal closeness).

Ketiga hal tersebut sangat mempengaruhi dalam komunikasi antar individu dalam sebuah komunitas.

Baca Juga: Sebelum babak play off degradasi, Gultom ingin kembalikan kepercayaan diri para pemain

Secanggih apapun media komunikasi virtual yang ada, menurut hemat penulis tidak akan dapat menggantikan pentingnya komunikasi langsung (direct) secara interpersonal dalam sebuah komunitas atau masyarakat.

Hal tersebut mengingat begitu kompleksnya gaya komunikasi atau saluran (channel) manusia sebagai penutur bahasa untuk melakukan tindak tutur (speech acts) yang sifatnya verbal maupun unsur komunikasi non-verbal lainnya seperti ekspresi wajah (facial expression), bahasa tubuh (gesture), dan unsur paralinguistik lainnya.

Komunikasi virtual yang dilakukan secara online mendapatkan klimaks momentumnya dengan kehadiran media social (social media) sejak 1997 yang diltandai dengan lahirnya platform media sosial.

Hal tersebut muai dengan hadirnya Bulletin Board System (BBS) pada tahun 1978), Six Degress (1997), Friendster (2002), MySpace (2003), LinkedIn (2002), Facebook (2004), YouTube (2005), Twitter (2006), Snapchat (2011), Instagram (2010), dan TikTok (2016).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X