Manusia saat ini hidup pada era komunikasi dan interaksi yang sangat instant, borderless, dan virtual-oriented.
Kecanggihan teknologi yang begitu pesat telah menjadikan komunikasi berlangsung tiada henti, kapan pun dan dimana pun selama ada sinyal internet atau data untuk berkomunikasi.
Kemudahan-kemudahan dalam berkomunikasi semakin 'menjauhkan' manusia dari gaya komunikasi langsung (direct communication) yang bersifat fisik, tatap muka, dan bermakna lengkap (meaningful) secara komunikasi verbal dan non-verbal.
Fenomena kecenderungan dan kemudahan berkomunikasi secara virtual tersebut tentunya tidak hanya menimbulkan dampak positif terkait kecepetan akses (speed) dalam berkomunikasi.
Baca Juga: Raker 2025, PT Dahana mantapkan langkah sebagai pemimpin industri bahan peledak
Namun juga telah merubah cara berpikir dan berkomunikasi masyarakat yang cenderung lebih memilih komunikasi virtual daripada komunikasi secara langsung fisik dan tatap muka.
Salah satu dampak dari komunikasi virtual yang begitu massif dan membudaya adalah berkurangnya kedekatan (closeness) hubungan interpersonal sesama individu.
Menurut Slater dan Willbur komunikasi interpersonal melibatkan tiga aspek yaitu ungkapan emosi (emotional expression), pengenalan nonverbal (nonverbal recognition) dan tingkat kedekatan interpersonal (the degree of interpersonal closeness).
Ketiga hal tersebut sangat mempengaruhi dalam komunikasi antar individu dalam sebuah komunitas.
Baca Juga: Sebelum babak play off degradasi, Gultom ingin kembalikan kepercayaan diri para pemain
Secanggih apapun media komunikasi virtual yang ada, menurut hemat penulis tidak akan dapat menggantikan pentingnya komunikasi langsung (direct) secara interpersonal dalam sebuah komunitas atau masyarakat.
Hal tersebut mengingat begitu kompleksnya gaya komunikasi atau saluran (channel) manusia sebagai penutur bahasa untuk melakukan tindak tutur (speech acts) yang sifatnya verbal maupun unsur komunikasi non-verbal lainnya seperti ekspresi wajah (facial expression), bahasa tubuh (gesture), dan unsur paralinguistik lainnya.
Komunikasi virtual yang dilakukan secara online mendapatkan klimaks momentumnya dengan kehadiran media social (social media) sejak 1997 yang diltandai dengan lahirnya platform media sosial.
Hal tersebut muai dengan hadirnya Bulletin Board System (BBS) pada tahun 1978), Six Degress (1997), Friendster (2002), MySpace (2003), LinkedIn (2002), Facebook (2004), YouTube (2005), Twitter (2006), Snapchat (2011), Instagram (2010), dan TikTok (2016).
Artikel Terkait
Mahasiswi Fikom UNPAD lakukan observasi dan wawancara dengan media online GenMilenial.id untuk tugas mata kuliah komunikasi massa
Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNAS Jakarta raih medali perunggu pada ajang film pendek di Malaysia
Mendalami gugatan cerai Andre yang ditolak pengadilan, begini soal komunikasi dan keintiman dalam rumah tangga
ESAI : Bullying? hindari circle dan lingkungan toxic
Dibuka Pj. Bupati Subang, Gathering Forum Komunikasi OSIS angkat tema besar kegalauan Gen Z Subang dalam menyongsong 'Indonesia Emas 2045'
Paula Verhoeven yang mengaku sulit komunikasi dengan Kiano-Kenzo, Baim Wong justru bantah halangi sang istri berjumpa 2 buah hatinya
ESAI : Korupsi Rp300 triliun hanya dihukum 6,5 tahun. Setelah Kejagung mengajukan banding, akan seperti apa jadinya?