Namun setelah dipertemukan Allah SWT kemudian menguji kembali Nabi Ibrahim dengan memerintahkannya menyembelih Nabi Ismail anak yang sangat dirindukan dan disayanginya.
Namun dengan ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim serta kesolehan dan keikhlasan Nabi Ismail akhirnya penyembelihan dilakukan, meski akhirnya Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor Domba.
Ketiga momen ujian dalam kisah Nabi Ibrahim ini kemudian mengajarkan kita bahwa sebagai manusia (umat Islam) dalam kehidupan ini ternyata memerlukan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Sikap sabar dan Ikhlas dalam menerima ketentuan Allah SWT, meskipun dalam hal ini Nabi Ibrahim yang menantikan kehadiran seorang anak selama puluhan tahun, namun ketika sang buah hati hadir, datanglah perintah untuk mengorbankannya.
Pengorbanan ini akhirnya kita kenal dengan nama Kurban. Kurban secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab, yakni Qaraba, Yaqrabu, Quban wa qurbanan wa qirbanan yang meliki arti dekat.
Jadi, kurban berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.
Kurban dalam pengertian kita sehari-hari sebenarnya diambil dari kata udhhiyah yakni bentuk jama’ dari kata 'dhahiyyah' yaitu sembelihan pada waktu dhuha yang dilaksanakan tanggal 10 sampai dengan 13 Dzulhijjah. Dari sinilah muncul istilah 'Idul Adha'.
Perlu kita tegaskan bahwa, Idul Adha adalah meneladani perilaku Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang senantiasa memiliki sikap patuh kepada Allah SWT sebagai makhluk ciptaannya.
Keikhlasan memberikan harta terbaik yang dimiliki untuk kemaslahatan agama dan umat, kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah Allah SWT meskipun untuk menyembelih anak yang sangat dicintai.
Terkait dengan kehidupan masyarakat, terlebih saat ini, yang telah dihantam gelombang globalisasi.
Pada era global seperti sekarang ini, idealisme sulit ditemukan, pragmatisme menjadi fenomena sehari-hari.
Merosotnya nilai-nilai ideal dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sikap hedonisme, apatis, yang kemudian memudarkan sikap kebersamaan, kerukunan, gotong royong saling membantu sesama manusia, toleransi dan lainnya, menjadi ironis dan memerlukan momen agar kita senantiasa dapat mengeliminasi sikap-sikap tersebut.