Ada banyak anekdot tentang Chairil Anwar, yang diceritakan dari mulut ke mulut, kemudian ada yang menuliskan beberapa anekdot yang sudah diceritakan itu.
Saya juga punya anekdot tentang Chairil, yang diceritakan oleh pelukis Sudarso, salah satu pelukis yang karyanya dikoleksi oleh Bung Karno.
Sudarso kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, pada 1914, wafat di Purwakarta, Jawa Barat, pada 2006. Chairil kelahiran 1922, berarti Sudarso lebih senior dari Chairil.
Bisa jadi anekdot ini pernah diceritakan kepada yang lain oleh Sudarso, tapi yang mendengarnya tidak menuliskannya. Dalam rangka memperkaya anekdot Chairil, maka saya tuliskan tuturan dari Pak Sudarso itu.
Sekira 2003, saya bertemu Sudarso dan mewawancarainya soal proses kreatif dalam melukis. Entah dari mana awalnya, tiba-tiba Sudarso bertutur tengtang Chairil Anwar dengan begitu antusias dengan diselingi tawa.
“Chairil itu anak muda yang cerdas, rajin membaca. Waktu istri saya mau menawari makan, mengintip ke kamar, dia sedang baca buku. Istri saya tak berani mengganggu,” kata Sudarso.
Chairil berkunjung ke rumah kontrakan Sudarso yang berada di perkampungan Jakarta, yang masih punya pekarangan luas, dengan pohon-pohon bebuahan. Pastinya di Jakarta kala itu masih banyak tanah yang bang bing blong.
Chairil nginap hingga mencapai tiga harmal. Ketika masakan sudah matang, Sudarso sedang keluar rumah sebentar untuk keperluan tertentu, akhirnya istri Sudarso berinisiatif menawari sarapan untuk Chairil. Tapi Chairil tampak sedang membaca dengan khusyu, istri Sudarso pun urung beraksi.
Baca Juga: Kondisi Sritex ambruk, akankah karyawan yang kena PHK tetap dapat pesangon? ini penjelasan kurator
“Badannya sudah kurus, tapi kalau ditawari makan, sering kali bilang masih kenyang. Sehari makan cuma sekali. Kerjanya baca dan baca. Sesekali keluar rumah, sesekali ngobrol dengan saya, lalu baca lagi,” tutur Sudarso, pelukis otodidak yang tergabung ke dalam Kelompok Lima Bandung bersama Affandi, Barli Sasmitawinata, Popo Iskandar, dan Wakidi.
Akhirnya selesai juga kunjungan Chairil. Ia menurutkan, bukannya tidak betah, namun ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Sudarso melepasnya hingga pekarangan rumah.
“Aneh dia itu, waktu awal datang dari arah sana, waktu pulang ko lewat arah itu,” kata Sudarso.
Artikel Terkait
ESAI : Gempita sejarah sastra Indonesia, menggali kejayaan dan inovasi literatur tanah air
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Psikologi sastra, memahami kompleksitas kemanusiaan melalui karya sastra
ESAI : Menyoal sastra masuk kurikulum
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
ESAI : Korupsi Rp300 triliun hanya dihukum 6,5 tahun. Setelah Kejagung mengajukan banding, akan seperti apa jadinya?