Mereka duduk melingkar di lantai tanah, di tengah puing kayu sisa patahan penyangga atap.
Baca Juga: ESAI: Paradoks regulasi 2026, ancaman serius bagi legalitas BUJK dan serapan APBD daerah
Situasi tersebut memunculkan keprihatinan luas. Banyak warganet membandingkan kondisi itu dengan sekolah lain yang telah memiliki fasilitas memadai.
SMPN 48 Sa Ate Gaikiu diketahui baru berdiri dan diresmikan pada Mei 2024. Namun bangunan yang masih menggunakan dinding bambu dan lantai tanah dinilai rentan rusak dan tidak tahan terhadap cuaca ekstrem.
Tuai simpati warganet
Unggahan yang telah ditonton lebih dari 86 ribu kali itu dibanjiri komentar simpati.
Sejumlah warganet menilai pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah konkret agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman.
Beberapa komentar menyuarakan harapan agar anggaran pendidikan benar-benar tepat sasaran, terutama untuk wilayah pelosok yang masih kekurangan fasilitas dasar.
Di tengah keterbatasan tersebut, para siswa tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Video itu pun menjadi pengingat bahwa pemerataan akses dan fasilitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas di berbagai daerah Indonesia.***
Artikel Terkait
Tekan alih fungsi lahan, Bupati Subang ikut Rakor Percepatan Tata Ruang Jawa Barat di Gedung Sate
Semangat anak-anak Desa Sekumur Aceh Tamiang, bawa meja sendiri untuk belajar di sekolah
Kronologi siswa SMKN 1 Ciomas lompat ke Sungai Cisadane, sekolah bantah dugaan bullying
Viral pelajar di Lampung Tengah lewati banjir dan jembatan kayu lapuk demi berangkat sekolah
TNI AD pulihkan SD Muhammadiyah dan TK ABA, sekolah di Tapanuli Selatan kembali digunakan usai banjir
Tembok rumah warga roboh menimpa SMPN 182 Jakarta, puing berserakan di area sekolah
Permendikdasmen No 6 Tahun 2026 ubah paradigma sekolah, Ucu SMPN 6 Subang: Kini fokus budaya aman dan nyaman